Remote Pilot AcademyRemote Pilot Academy

Hari Pertama Pelatihan dan Sertifikasi Remote Pilot untuk Tim BPDAS Krueng Aceh di Gading Serpong

Kembali ke Blog
Kegiatan16 September 20266 menit baca

Hari Pertama Pelatihan dan Sertifikasi Remote Pilot untuk Tim BPDAS Krueng Aceh di Gading Serpong

PT Remote Pilot Indonesia membuka hari pertama Pelatihan dan Sertifikasi Remote Pilot selama lima hari di Hotel Atria Gading Serpong, diikuti personel BPDAS Krueng Aceh, KPH Wilayah Aceh, dan Saka Wanabakti Aceh, mulai dari pengenalan drone hingga praktik menyusun flight plan pemetaan.

Peserta dan instruktur Pelatihan dan Sertifikasi Remote Pilot berfoto bersama di depan banner PT Remote Pilot Indonesia, Gading Serpong

Hotel Atria Gading Serpong menjadi lokasi pembukaan Pelatihan dan Sertifikasi Remote Pilot yang diselenggarakan PT Remote Pilot Indonesia selama lima hari, dimulai Senin, 14 September 2026. Program in-house training ini diikuti peserta yang datang jauh dari Aceh untuk mengikuti pelatihan penuh dari nol hingga siap uji sertifikasi.

Seluruh sesi dipandu langsung oleh Liu Purnomo bersama tim instruktur Remote Pilot Academy, yang mendampingi peserta penuh dari kelas teori hari pertama hingga rencana praktik lapangan di hari-hari berikutnya. Rangkaian pelatihan ini dirancang berjenjang selama lima hari, dengan target akhir peserta menguasai kompetensi pemetaan udara berbasis drone sekaligus mengantongi sertifikat Remote Pilot resmi dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU).

Peserta hari pertama diikuti oleh sekitar lima belas personel, mayoritas Aparatur Sipil Negara dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Krueng Aceh di bawah Kementerian Kehutanan, ditambah perwakilan dari KPH Wilayah V, VI, dan VII Aceh di bawah Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh, serta dua anggota Saka Wanabakti Aceh yang berstatus pelajar dan mahasiswa. Komposisi peserta ini menunjukkan bagaimana kebutuhan kompetensi drone kini merambah langsung ke instansi pengelola daerah aliran sungai dan kawasan hutan di daerah.

Peserta pelatihan berdiri khidmat mengikuti upacara pembukaan Pelatihan dan Sertifikasi Remote Pilot di Gading Serpong

Peserta dari BPDAS dan KPH Aceh Memenuhi Kelas Sejak Pagi

Kelas dibuka dengan upacara pembukaan singkat sebelum peserta duduk di meja masing-masing yang sudah dilengkapi laptop kerja. Format kelas yang lebih personal, dengan rasio peserta dan instruktur yang ketat, dipilih karena materi hari pertama langsung padat, mulai dari dasar teknis drone sampai konsep pemetaan yang butuh perhatian penuh dari setiap peserta.

Latar belakang peserta yang berasal dari BPDAS Krueng Aceh dan tiga KPH Wilayah di Aceh bukan kebetulan. Pekerjaan instansi ini sehari-hari bersinggungan langsung dengan pemantauan daerah aliran sungai, kawasan hutan, dan lahan kritis, area kerja yang selama ini banyak mengandalkan survei darat yang lambat dan mahal. Kompetensi pemetaan udara berbasis drone dipandang bisa mempercepat proses tersebut secara signifikan, sejalan dengan yang sudah kami bahas di sertifikasi pilot drone untuk kehutanan dan pemantauan deforestasi.

Kehadiran dua peserta dari Saka Wanabakti Aceh, satuan karya pramuka bidang kehutanan, juga menarik dicermati. Regenerasi kompetensi teknis semacam ini biasanya baru menyentuh jenjang profesional, sehingga melibatkan pelajar dan mahasiswa sejak dini memberi gambaran bahwa kebutuhan tenaga remote pilot bersertifikat di sektor kehutanan akan terus bertambah dalam beberapa tahun ke depan.

Mengenal BPDAS Krueng Aceh, Unit Pelaksana Teknis di Bawah Kementerian Kehutanan

BPDAS Krueng Aceh adalah kepanjangan dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Krueng Aceh, unit pelaksana teknis Kementerian Kehutanan yang secara nasional berada dalam koordinasi Direktorat Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (Ditjen PDASRH). Nama BPDAS di sini mengikuti penamaan resmi yang dipakai balai ini sendiri, salah satu dari puluhan balai serupa yang tersebar di berbagai provinsi untuk menangani wilayah kerjanya masing-masing.

Tugas pokok BPDAS mencakup penyusunan rencana dan evaluasi pengelolaan daerah aliran sungai, penguatan kelembagaan, konservasi tanah dan air, serta rehabilitasi hutan, lahan, perairan darat, dan mangrove. Dari tugas ini diturunkan sejumlah fungsi operasional, mulai dari membangun model pengelolaan DAS, melaksanakan rehabilitasi lahan dan konservasi tanah air di lapangan, memantau dan mengevaluasi hasil rehabilitasi, hingga memperkuat kelembagaan pengelolaan DAS di tingkat daerah.

Sebagian besar tugas tersebut menuntut data spasial yang akurat dan terus diperbarui, mulai dari kondisi tutupan lahan, sebaran lahan kritis, sampai lokasi kegiatan rehabilitasi yang perlu dipantau perkembangannya dari waktu ke waktu. Selama ini kebutuhan itu banyak dipenuhi lewat survei darat yang menyita waktu, terutama di kawasan DAS dan hutan lindung yang medannya sulit dijangkau. Di sinilah kompetensi pemetaan udara berbasis drone berperan, sebagai alat kerja yang langsung menunjang tugas pokok personel BPDAS sehari-hari di lapangan.

Sesi Pertama Membedah Dasar Drone hingga Konsep Pemetaan Udara

Materi hari pertama dibuka dengan pengenalan drone secara menyeluruh, mencakup sejarah dan perkembangannya, jenis-jenis drone dari fixed wing, multirotor, hingga VTOL, serta anatomi dan prinsip kerja komponen utamanya seperti flight controller, GPS, ESC, dan motor. Pembahasan jenis dan klasifikasi drone ini sejalan dengan uraian lebih lengkap yang kami tulis di klasifikasi drone berdasarkan berat dan kategorinya.

Sesi berlanjut ke pemanfaatan drone untuk foto dan videografi, mulai dari pengenalan kamera dan gimbal, pengaturan ISO, shutter speed, dan white balance, sampai teknik komposisi serta mode terbang sinematik seperti point of interest dan waypoint. Materi ini penting sebagai jembatan sebelum peserta masuk ke inti pelatihan, yaitu drone untuk pemetaan.

Bagian pemetaan menjadi porsi terpanjang di hari pertama, mencakup konsep fotogrametri dan penginderaan jauh, pentingnya overlap dan sidelap foto udara, perhitungan Ground Sampling Distance (GSD) terhadap tinggi terbang, hingga fungsi Ground Control Point (GCP) sebagai titik ikat akurasi peta. Konsep dasar ini kami bahas lebih dalam di apa itu fotogrametri dan kenapa penting untuk survei udara serta apa itu Ground Control Point dan kenapa penting dalam pemetaan drone.

Liu Purnomo memaparkan materi pengenalan drone dan visi masa depan teknologi UAV di depan kelas Peserta pelatihan menyimak materi sambil mencatat di laptop selama sesi kelas hari pertama

Baca Juga

Pelatihan Pilot Drone untuk Pemetaan Digelar di Kawasan Tambang Meliau, Sanggau

Peserta dan instruktur pelatihan pilot drone untuk pemetaan berfoto bersama di Site Meliau, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat

Diskusi Berjalan Aktif, Peserta Banyak Bertanya Soal Penerapan di Lapangan

Sesi tanya jawab berlangsung hidup sepanjang hari, dengan peserta bergantian mengangkat mikrofon untuk bertanya. Sebagian besar pertanyaan mengarah ke penerapan praktis di lapangan kerja masing-masing, misalnya bagaimana menyesuaikan tinggi terbang dan GSD untuk kebutuhan pemantauan DAS yang bervegetasi rapat, atau bagaimana memilih jenis drone yang cocok untuk medan kehutanan yang sulit dijangkau.

Antusiasme ini tidak lepas dari fakta bahwa peserta bukan pemula yang datang tanpa konteks kerja. Sebagai personel BPDAS dan KPH, mereka sudah punya gambaran jelas soal masalah yang ingin dipecahkan lewat drone, sehingga diskusi jauh lebih terarah dibanding kelas reguler yang diikuti peserta dengan latar belakang lebih beragam. Perbedaan dinamika semacam ini yang membuat kami membahasnya secara khusus di In-House Training vs Kelas Reguler.

Instruktur juga menekankan bahwa sertifikat yang akan diperoleh peserta di akhir program adalah sertifikat Remote Pilot dari DKPPU, bukan sertifikat kompetensi BNSP, karena keduanya punya dasar hukum dan ranah pengakuan yang berbeda. Penjelasan mengenai perbedaan ini bisa dibaca lebih lengkap di sertifikat Remote Pilot dari DKPPU, bukan BNSP.

Peserta pelatihan mengajukan pertanyaan menggunakan mikrofon saat sesi diskusi hari pertama Peserta pelatihan berhijab mengangkat mikrofon untuk bertanya kepada instruktur

Praktik Menyusun Flight Plan Menutup Hari Pertama

Sesi terakhir hari pertama difokuskan pada praktik membuat flight plan, dipandu langsung menggunakan papan tulis dan diagram alur agar peserta memahami logika penyusunan misi sebelum mempraktikkannya di aplikasi perencanaan terbang. Materi mencakup cara menentukan Area of Interest (AOI), pengaturan overlap, tinggi terbang, dan kecepatan drone, estimasi waktu terbang dan kebutuhan baterai, sampai simulasi dan validasi jalur terbang sebelum misi benar-benar dijalankan.

Tahapan ini sengaja ditempatkan di penghujung hari pertama karena menjadi jembatan langsung menuju sesi praktik lapangan yang akan berlangsung di hari-hari berikutnya. Panduan lebih rinci soal menyusun rencana terbang yang efisien untuk misi pemetaan bisa dibaca di cara membuat flight plan yang efisien untuk misi pemetaan.

Dengan materi flight plan sebagai penutup, peserta mengakhiri hari pertama dengan bekal praktis yang siap dipakai langsung di tahap akuisisi data lapangan.

Instruktur menjelaskan diagram alur penyusunan flight plan menggunakan flipchart kepada peserta Suasana kelas Pelatihan dan Sertifikasi Remote Pilot dengan banner PT Remote Pilot Indonesia di Gading Serpong

Empat Hari ke Depan Menuju Praktik Lapangan dan Sertifikasi DKPPU

Hari pertama ini baru menjadi pembuka dari rangkaian lima hari yang akan membawa peserta melalui praktik terbang, akuisisi data lapangan, pengolahan data menjadi peta, hingga ujian sertifikasi Remote Pilot dari DKPPU di hari-hari mendatang. Bagi personel BPDAS Krueng Aceh dan KPH Wilayah Aceh, sertifikat ini akan menjadi bekal legal sekaligus teknis untuk menjalankan pemetaan udara secara mandiri di wilayah kerja masing-masing.

Program semacam ini menunjukkan bagaimana In-House Training Remote Pilot Academy bisa dirancang khusus untuk kebutuhan instansi pemerintah di sektor kehutanan dan lingkungan, sejalan dengan cakupan program Drone untuk Kehutanan dan Lingkungan. Sisi teknis pengolahan data hasil pemetaan turut dibahas lebih dalam pada program Fotogrametri & Pemetaan Udara, sementara fondasi sertifikasinya tetap mengacu pada Sertifikasi Remote Pilot (RPC).

Kami akan terus mengikuti perkembangan pelatihan ini hingga hari terakhir, termasuk sesi praktik lapangan dan hasil sertifikasi peserta dari BPDAS Krueng Aceh, KPH Wilayah Aceh, dan Saka Wanabakti Aceh.

Liu Purnomo

Ditulis oleh

Liu Purnomo

Founder & CEO, PT Remote Pilot Indonesia

Liu Purnomo adalah profesional industri drone, penulis, dan instruktur bersertifikat dengan lebih dari satu dekade pengalaman di teknologi UAV, pemetaan udara, dan penginderaan jauh (remote sensing). Sebagai Founder Remote Pilot Indonesia, ia berdedikasi untuk memajukan inovasi drone dan pendidikan profesional di Indonesia.