Sebanyak 30 personil dari Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup dan Balai Pengelolaan Ekosistem Gambut dan Mangrove mengikuti bimbingan teknis pemetaan udara dan sertifikasi pilot UAV yang berlangsung sejak 24 Februari hingga 1 Maret 2026. Remote Pilot Academy dipercaya mendampingi program ini melalui Liu Purnomo sebagai instruktur utama, bersama tim instruktur pendukung yang menangani materi regulasi penerbangan dan keselamatan kerja.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Project M4CR atau Mangroves for Coastal Resilience, program rehabilitasi ekosistem mangrove yang dijalankan bersama Kementerian Kehutanan dan Kementerian Kelautan dan Perikanan, dengan dukungan pendanaan dari Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup dan inisiasi Bank Dunia. Sesi kelas berlangsung di Avenzel Hotel and Convention Cibubur, sementara praktik terbang dan pengolahan data dilaksanakan di PUSDIRGA Learning Center, Jakarta Timur.
Program ini dirancang untuk membekali personil BPEGM dan KLH/BPLH dengan kompetensi teknis penerbangan drone sekaligus sertifikasi resmi sebagai remote pilot UAV, sehingga data spasial yang dihasilkan dari kegiatan pemetaan lapangan dapat memenuhi standar kualitas untuk diintegrasikan ke dalam basis data geospasial nasional.
Peta Mangrove Nasional yang Mengejar Tenggat Waktu Enam Bulan
Kebutuhan pelatihan ini tidak lepas dari mandat Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2025 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove, yang mewajibkan pemerintah menetapkan Peta Mangrove Nasional dalam jangka waktu paling lama enam bulan. Balai Pengelolaan Ekosistem Gambut dan Mangrove mengemban tugas verifikasi hasil inventarisasi dan geotagging di wilayah kerja yang membentang dari Sumatera, Kalimantan, hingga Papua.
Peta Mangrove Nasional dan Peta Kesatuan Lanskap Mangrove yang dihasilkan menuntut skala minimal 1 banding 25.000, sebuah tingkat ketelitian yang hanya bisa dicapai dengan menggabungkan interpretasi data penginderaan jauh dan survei lapangan langsung. Drone menjadi alat bantu utama untuk melihat tipologi mangrove, kerapatan tajuk, struktur zonasi, hingga identifikasi kerusakan fisik ekosistem, termasuk di wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau lewat pengambilan data manual.
Tujuh unit drone DJI Matrice 4 telah disiapkan untuk mendukung kegiatan verifikasi ini, namun regulasi mewajibkan setiap unit terdaftar di sistem SIDOPI GO dan dioperasikan oleh personil bersertifikat resmi, sesuai Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 63 Tahun 2021 tentang Sistem Pesawat Udara Kecil Tanpa Awak. Dari sinilah kebutuhan bimbingan teknis dan sertifikasi pilot UAV ini menjadi mendesak untuk segera dilaksanakan.
Rangkaian Materi dari Regulasi Penerbangan hingga Prinsip Fotogrametri
Hari pertama pelatihan dibuka dengan pre-test dan sesi pengenalan drone yang dibawakan langsung oleh Liu Purnomo, dilanjutkan dengan pengisian data SIDOPI GO dan pemeriksaan kesehatan peserta. Materi regulasi penerbangan mulai diperkenalkan pada hari yang sama, mencakup ketentuan operasi penerbangan, lisensi pilot, prinsip aerodinamika, hingga dasar meteorologi penerbangan.
Hari kedua diisi arahan dari Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Perairan Darat, dilanjutkan materi peningkatan kompetensi SDM lingkungan hidup dan pendalaman regulasi CASR Part 107 serta PM 37 Tahun 2020 tentang operasi UAS di Indonesia. Liu Purnomo kemudian membawakan materi drone untuk pemetaan yang membahas prinsip fotogrametri dan cara menyusun perencanaan misi penerbangan yang efisien untuk kebutuhan pemetaan lapangan.
Sesi human factors turut dibahas melalui materi Aeronautical Decision Making dan Crew Resource Management, memastikan peserta memahami sisi pengambilan keputusan dan koordinasi tim, bukan hanya keterampilan teknis mengoperasikan drone semata.
Praktik Terbang dan Pengolahan Data di PUSDIRGA Learning Center
Puncak praktik lapangan berlangsung pada hari ketiga, saat seluruh peserta berangkat ke PUSDIRGA Learning Center di Jakarta Timur untuk mengikuti praktik terbang, praktik pemetaan, sekaligus ujian keterampilan terbang atau flying skill test. Sesi ini menjadi tolok ukur kesiapan peserta sebelum dinyatakan layak menerima sertifikasi.
Setelah kembali ke lokasi kelas, peserta melanjutkan dengan praktik pengolahan data hasil akuisisi menggunakan Agisoft Metashape, dipandu langsung oleh Liu Purnomo. Data yang telah diproses kemudian dilanjutkan ke tahap penyusunan layout peta menggunakan ArcGIS, melengkapi alur kerja dari akuisisi data mentah hingga produk peta siap pakai.
Hari yang sama juga diisi materi pemeriksaan pra-terbang, perawatan, dan prosedur keselamatan unit UAS, memastikan peserta memahami tanggung jawab merawat perangkat yang akan mereka operasikan secara rutin di lapangan kerja masing-masing.
Baca Juga
Pelatihan Drone Matrice 400 untuk Akuisisi Data LiDAR Digelar di Dabo Singkep

Registrasi SIDOPI GO dan Serah Terima Tujuh Unit DJI Matrice 4
Hari keempat pelatihan difokuskan pada penguatan materi regulasi lanjutan, mencakup pengaturan ruang udara terkontrol, komunikasi radio, manajemen risiko, hingga prosedur darurat penerbangan. Sesi ini ditutup dengan momen penting berupa serah terima tujuh unit drone DJI Matrice 4 kepada Balai Pengelolaan Ekosistem Gambut dan Mangrove untuk mendukung program perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove.
Memasuki hari kelima, peserta mengikuti ujian teori berbasis internet yang dipandu Liu Purnomo, dilanjutkan proses pendaftaran resmi drone dan remote pilot ke sistem SIDOPI GO. Tahap ini krusial karena tanpa registrasi resmi, ketujuh unit drone yang baru diserahterimakan belum bisa dioperasikan secara sah di lapangan.
Program ditutup dengan penyusunan SOP pemetaan menggunakan drone secara bersama-sama, review keseluruhan materi, post-test, dan seremoni penutupan yang dipimpin langsung oleh jajaran direktorat terkait, sebelum peserta melakukan proses checkout pada hari terakhir.
Tiga Puluh Peserta dari Berbagai Direktorat dan Balai KLH/BPLH
Peserta program ini berasal dari lintas unit kerja, mencerminkan betapa luasnya cakupan kebutuhan kompetensi drone untuk urusan mangrove secara nasional. Balai Pengelolaan Ekosistem Gambut dan Mangrove mengirimkan perwakilan dari Kota Jambi, Pontianak, dan Sorong, sementara dari internal Kementerian Lingkungan Hidup hadir perwakilan Direktorat Penyelenggaraan Sumber Daya Alam Berkelanjutan, Direktorat Pencegahan Dampak Lingkungan Kebijakan Wilayah dan Sektor, Direktorat Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Perairan Darat, serta Direktorat Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut.
Turut bergabung pula tim dari Project Implementation Unit M4CR KLH dan Direktorat Pencegahan Dampak Lingkungan Usaha dan Kegiatan, menunjukkan bahwa kompetensi pemetaan udara ini disiapkan untuk mendukung berbagai fungsi sekaligus, mulai dari verifikasi lapangan, penyusunan kebijakan, hingga pengelolaan proyek secara keseluruhan.
Komposisi peserta lintas direktorat dan balai semacam ini sejalan dengan tujuan besar program, yaitu membangun kapasitas internal yang merata di berbagai simpul kerja, bukan hanya menumpuk kompetensi pada satu unit tertentu saja.
Fondasi Baru bagi Pemantauan Ekosistem Mangrove Berbasis Data Drone
Dengan tersedianya personil bersertifikat dan tujuh unit drone yang telah resmi terdaftar, Balai Pengelolaan Ekosistem Gambut dan Mangrove kini memiliki fondasi teknis untuk mempercepat proses verifikasi lapangan dan pemantauan kondisi ekosistem mangrove secara mandiri. Data spasial beresolusi tinggi yang dihasilkan diharapkan bisa langsung terintegrasi ke dalam Sistem Informasi Perlindungan Ekosistem Mangrove tanpa harus bergantung pada pihak ketiga untuk setiap kebutuhan akuisisi data.
Program semacam ini menegaskan bahwa kompetensi drone untuk sektor lingkungan hidup tidak berhenti pada urusan menerbangkan unit, melainkan mencakup pemahaman regulasi, keselamatan kerja, hingga pengolahan data menjadi informasi yang benar-benar bisa dipakai untuk pengambilan keputusan. Bagi instansi maupun perusahaan lain yang menghadapi kebutuhan serupa, program Drone untuk Kehutanan, Lingkungan & Konservasi kami dirancang khusus untuk konteks pekerjaan seperti ini.
Remote Pilot Academy membuka peluang kerja sama serupa melalui program In-House Training yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan instansi maupun perusahaan, sementara Sertifikasi Remote Pilot (RPC) dan Fotogrametri & Pemetaan Udara tetap menjadi program inti bagi siapa pun yang ingin membangun kompetensi drone secara menyeluruh, dari dasar penerbangan hingga pengolahan data pemetaan.

Ditulis oleh
Founder & CEO, PT Remote Pilot Indonesia
Liu Purnomo adalah profesional industri drone, penulis, dan instruktur bersertifikat dengan lebih dari satu dekade pengalaman di teknologi UAV, pemetaan udara, dan penginderaan jauh (remote sensing). Sebagai Founder Remote Pilot Indonesia, ia berdedikasi untuk memajukan inovasi drone dan pendidikan profesional di Indonesia.


