Remote Pilot Academy menyelenggarakan pelatihan pilot drone untuk pemetaan selama tiga hari di Site Meliau, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Pelatihan digelar langsung di lokasi kerja peserta, di kawasan operasional PT Mandara Prima Nusantara, sehingga seluruh sesi praktik dapat dijalankan pada kondisi medan yang sebenarnya.
Program ini diikuti oleh sembilan personil lintas fungsi dari empat perusahaan yang beroperasi di kawasan tersebut, yaitu PT Mandara Prima Nusantara, PT Dinamika Sejahtera Mandiri, PT Sigma Prima Indotama, dan Gesit Natural Resources. Peran peserta beragam, mulai dari surveyor, land acquisition, staf perizinan, environment, hingga foreman, satu tim yang memang saling terhubung dalam alur kerja survei, perizinan, dan pengelolaan lingkungan di lapangan.
Seluruh sesi dipandu oleh dua instruktur Remote Pilot Academy, yakni Liu Purnomo dan Toni Eko Kurniawan, yang mendampingi peserta penuh selama tiga hari, dari kelas teori sampai sesi pengolahan data.
Hari Pertama Diisi Teori, Regulasi, dan Dasar Aerial Survey
Hari pertama dijalankan sebagai kelas teori. Sesi dibuka dengan pengenalan drone dan aplikasinya, lalu dilanjutkan dengan pembahasan regulasi penerbangan drone di Indonesia, prosedur administrasi, dan flight procedures yang wajib dipahami sebelum tim turun ke lapangan.
Materi kemudian masuk ke pengantar Sistem Informasi Geografis (SIG) dan aerial survey, sebagai fondasi bagi peserta untuk memahami bahwa hasil akhir pekerjaan ini bukan sekadar foto udara, melainkan data terukur yang bisa diolah menjadi peta. Konsep dasar fotogrametri dan pentingnya titik kontrol tanah (GCP) dibahas pada sesi ini.
Hari pertama ditutup dengan materi flight planning, mencakup konsep dan praktik terbaik dalam menyusun rencana terbang untuk misi pemetaan, yang keesokan harinya langsung dipraktikkan di lapangan.
Praktik Lapangan di Hari Kedua, dari Manuver Dasar hingga Akuisisi Data
Hari kedua difokuskan pada praktik lapangan. Sesi dibuka dengan pre-flight briefing, dilanjutkan latihan manuver dasar agar peserta terbiasa dengan respons kendali drone sebelum menjalankan misi pemetaan. Latihan mencakup lepas landas, kendali posisi, dan pendaratan presisi pada titik yang sudah ditandai.
Sambil menunggu baterai terisi, peserta mengikuti diskusi kelompok untuk membahas kendala dan pertanyaan yang muncul selama praktik. Setelah itu, peserta menyusun flight plan yang efisien dan menjalankan praktik akuisisi data lapangan untuk kebutuhan mapping di area yang telah ditentukan.
Tahap akuisisi ini menjadi bagian paling menentukan, karena kualitas data yang direkam di lapangan inilah yang akan menentukan hasil akhir pengolahan pada hari ketiga.
Pengolahan Data Menjadi Peta di Hari Penutup
Hari ketiga difokuskan pada pengolahan data hasil akuisisi. Sesi diawali dengan materi data management, lalu pengenalan aplikasi pengolah data, instalasi, dan hands-on langsung menggunakan perangkat peserta.
Setelah perangkat siap, peserta menjalankan processing data drone hingga menghasilkan keluaran pemetaan, dan ditutup dengan sesi map layouting untuk menyusun peta akhir yang siap dipakai. Gambaran lengkap mengenai pilihan perangkat lunak untuk tahap ini kami bahas di panduan memilih software pengolahan data drone.
Dengan menyelesaikan seluruh alur kerja, dari terbang sampai peta jadi, peserta memperoleh gambaran utuh dan bukan hanya keterampilan menerbangkan drone semata.
Baca Juga
Pelatihan Drone Matrice 400 untuk Akuisisi Data LiDAR Digelar di Dabo Singkep

Kenapa Kompetensi Pemetaan Drone Penting bagi Operasi Tambang
Bagi perusahaan yang beroperasi di kawasan tambang, peta berbasis data drone menopang banyak pekerjaan sekaligus: peta kerja, perencanaan, kebutuhan perizinan, pemantauan lingkungan, dan reklamasi. Pemanfaatan drone untuk pengukuran volumetrik stockpile juga sudah lama menjadi praktik umum di industri ini.
Kebutuhan tersebut kini punya payung aturan yang lebih jelas melalui Kepdirjen Minerba tentang pemetaan tambang dengan UAV, sehingga membangun kompetensi internal menjadi langkah yang relevan, bukan sekadar pelengkap.
Dengan mengikuti pelatihan langsung di lokasi kerja, tim dari keempat perusahaan dapat mempraktikkan materi pada kondisi medan mereka sehari-hari, bukan simulasi di lokasi umum yang belum tentu merepresentasikan lapangan yang sebenarnya.
Bekal Baru bagi Tim Lapangan di Sanggau
Pelatihan tiga hari ini memberi tim dari PT Mandara Prima Nusantara, PT Dinamika Sejahtera Mandiri, PT Sigma Prima Indotama, dan Gesit Natural Resources bekal yang lengkap, dari pemahaman regulasi, kemampuan menerbangkan drone secara aman, hingga kompetensi mengolah data menjadi peta yang siap dipakai untuk pengambilan keputusan.
Program semacam ini menunjukkan bagaimana In-House Training Remote Pilot Academy bisa disesuaikan langsung dengan kebutuhan spesifik perusahaan, termasuk perangkat dan software yang sudah dipakai di lingkungan kerja mereka. Perbandingan antara skema ini dan kelas terbuka kami bahas di In-House Training vs Kelas Reguler.
Bagi perusahaan lain yang ingin membangun kompetensi serupa, program Fotogrametri & Pemetaan Udara membahas lebih dalam sisi teknis pengolahan data, sementara Sertifikasi Remote Pilot (RPC) tetap menjadi fondasi bagi siapa pun yang ingin menekuni operasional drone secara profesional. Latar di balik sertifikat ini kami ulas di sertifikat Remote Pilot dari DKPPU.

Ditulis oleh
Founder & CEO, PT Remote Pilot Indonesia
Liu Purnomo adalah profesional industri drone, penulis, dan instruktur bersertifikat dengan lebih dari satu dekade pengalaman di teknologi UAV, pemetaan udara, dan penginderaan jauh (remote sensing). Sebagai Founder Remote Pilot Indonesia, ia berdedikasi untuk memajukan inovasi drone dan pendidikan profesional di Indonesia.


