Sebagian besar karhutla besar bermula dari nyala kecil yang tidak tertangani dalam jam-jam pertama. Regu darat sering kalah cepat karena medan gambut, kanal, dan semak yang menghalangi.
Setiap jam api dibiarkan, biaya penanganannya naik berlipat. Front kecil yang tadinya bisa dipukul satu regu berubah menjadi operasi udara penuh.
Kombinasi drone angkut berat dan bola pemadam api menawarkan cara menjangkau titik api dini dari udara. Nilainya ada pada kecepatan respons dan keselamatan personel.
Apa Itu Bola Pemadam Api
Bola pemadam api adalah bola ringan berdiameter sekitar 15 sentimeter dan berbobot sekitar 1,3 kilogram. Isinya serbuk kimia kering jenis mono-amonium fosfat.
Ketika permukaannya bersentuhan dengan nyala selama beberapa detik, sumbu pemicu menyala dan bola pecah. Serbuknya menyebar ke area di sekitarnya dan memutus reaksi pembakaran.
Alat ini tidak butuh operator di dekat api dan tidak memerlukan sumber air. Sifat inilah yang membuatnya cocok dipasangkan dengan wahana tanpa awak.
Peran Drone sebagai Pengantar
Drone angkut berat, termasuk platform semprot pertanian berkapasitas puluhan kilogram, dapat membawa beberapa bola sekaligus ke koordinat titik api. Bola dijatuhkan dari ketinggian rendah tepat di atas nyala.
Karena wahana ini juga bisa memasang payload kamera, satu tim dapat memverifikasi titik api dengan drone thermal lalu mengirim drone angkut untuk penanganan awal.
Tidak ada personel yang harus mendekati api di lahan yang bisa runtuh atau dikelilingi bara bawah permukaan. Risiko cedera regu ditekan tanpa mengorbankan kecepatan.
Batas Kemampuan yang Harus Jujur Disampaikan
Metode ini efektif untuk titik api kecil pada tahap dini, permukaan rumput dan semak, serta spot fire yang terpisah dari front utama. Di luar itu, kemampuannya cepat habis.
Ia tidak menggantikan helikopter water bombing atau regu darat untuk api yang sudah meluas, api tajuk, atau kebakaran gambut dalam yang butuh pembasahan menyeluruh. Gambut yang membara di bawah tanah tidak akan padam oleh serbuk permukaan.
Menaruh ekspektasi berlebih pada alat ini justru berbahaya karena menunda pengerahan sumber daya besar. Kejujuran soal batas kemampuan adalah bagian dari keselamatan operasi.
Baca Juga
Dukungan Data Drone untuk Analisis Sebaran Asap dan Dampak Karhutla

Aspek Operasional dan Regulasi
Menjatuhkan benda dari drone tunduk pada aturan pengoperasian yang berbahaya di PM 37 Tahun 2020 dan PKPS Bagian 107. Operasi ini butuh perencanaan area, mitigasi risiko, dan koordinasi dengan posko.
Operasi di sekitar titik api juga berbagi ruang udara dengan pesawat berawak, sebagaimana diperingatkan di bahaya tabrakan dengan pesawat water bombing. Slot waktu drone angkut harus dijadwalkan bersama komandan operasi.
Wahana yang membawa beban berat juga menuntut manajemen daya dan cadangan tenaga yang cermat. Kegagalan di atas titik api bisa memperparah situasi, bukan membantu.
Kesiapan Tim Sebelum Membeli Alat
Kemampuan mengangkut beban, menjatuhkan muatan presisi, dan terbang di sekitar api adalah keterampilan lanjutan. Dasarnya dibangun lewat Sertifikasi Remote Pilot (RPC).
Untuk tim tanggap darurat, prosedur operasinya dibahas pada program Drone untuk Penanggulangan Bencana. Perusahaan yang ingin membangun kapabilitas ini secara internal bisa menempuh jalur In-House Training.
Alat pemadam dari udara hanya bermanfaat jika pilot dan prosedurnya sudah matang lebih dulu. Membeli wahana canggih tanpa itu hanya memindahkan risiko, bukan menguranginya.

Ditulis oleh
Founder & CEO, PT Remote Pilot Indonesia
Liu Purnomo adalah profesional industri drone, penulis, dan instruktur bersertifikat dengan lebih dari satu dekade pengalaman di teknologi UAV, pemetaan udara, dan penginderaan jauh (remote sensing). Sebagai Founder Remote Pilot Indonesia, ia berdedikasi untuk memajukan inovasi drone dan pendidikan profesional di Indonesia.


