Sekat bakar dan embung adalah infrastruktur pengendalian karhutla yang sering dibangun sebelum musim kemarau. Keduanya menghabiskan anggaran dan tenaga yang tidak sedikit.
Masalah muncul ketika efektivitasnya baru diketahui saat api sudah datang. Sekat yang terlalu sempit atau embung yang menyusut baru terlihat gagal pada saat paling kritis.
Drone thermal dan pemetaan berkala memberi cara mengevaluasi infrastruktur ini lebih awal. Bukti visual menggantikan asumsi bahwa semuanya berfungsi.
Memeriksa Kondisi Sekat Bakar
Pemetaan udara mengukur lebar sekat bakar sepanjang jalurnya dan menandai bagian yang menyempit atau tertutup vegetasi baru. Titik lemah ini yang biasanya dilompati api.
Citra resolusi tinggi juga menunjukkan apakah bahan bakar di kedua sisi sekat sudah dibersihkan sesuai standar. Serasah kering yang menumpuk membuat sekat kehilangan fungsi.
Setelah ada kejadian kebakaran di dekatnya, penerbangan ulang memperlihatkan apakah sekat benar-benar menahan rambatan atau justru dilewati. Hasil ini menjadi dasar perbaikan desain.
Menilai Ketersediaan Air di Embung
Foto udara berkala merekam luas permukaan air embung dari waktu ke waktu. Penyusutan yang cepat menjelang puncak kemarau adalah tanda kapasitas tidak memadai.
Model elevasi dari fotogrametri membantu memperkirakan volume air yang tersisa, bukan hanya luas permukaannya. Angka volume lebih berguna untuk perencanaan.
Jarak antara embung dan titik rawan juga dievaluasi dari peta. Sumber air yang terlalu jauh dari front api memperlambat operasi pemadaman.
Menghubungkan dengan Strategi Pemadaman
Hasil evaluasi sekat dan embung masuk ke perencanaan yang dibahas di pemetaan sebaran karhutla. Komandan operasi tahu garis pertahanan mana yang bisa diandalkan.
Selama kejadian, drone thermal memverifikasi apakah api sudah melewati sekat atau masih tertahan. Informasi ini menentukan ke mana regu digeser.
Data yang sama juga berguna untuk pemantauan tinggi muka air tanah gambut, karena embung dan kanal saling terhubung dalam satu sistem hidrologi.
Baca Juga
Peran Drone dalam Pemantauan Titik Panas (Hotspot) Karhutla

Kompetensi yang Dibutuhkan Regu Pemetaan
Evaluasi infrastruktur menuntut pemetaan yang akurat dan konsisten dari musim ke musim. Perbandingan antar waktu hanya sahih jika metodenya sama.
Keterampilan ini dibangun lewat program Fotogrametri dan Pemetaan Udara di atas dasar Sertifikasi Remote Pilot (RPC).
Anggaran yang sudah dikeluarkan untuk sekat dan embung layak dijaga dengan evaluasi rutin. Drone membuat evaluasi itu murah dan cepat, sehingga tidak ada alasan menundanya sampai api datang.

Ditulis oleh
Founder & CEO, PT Remote Pilot Indonesia
Liu Purnomo adalah profesional industri drone, penulis, dan instruktur bersertifikat dengan lebih dari satu dekade pengalaman di teknologi UAV, pemetaan udara, dan penginderaan jauh (remote sensing). Sebagai Founder Remote Pilot Indonesia, ia berdedikasi untuk memajukan inovasi drone dan pendidikan profesional di Indonesia.


