Ada, dan jumlahnya lebih banyak daripada yang umumnya diketahui publik. Indonesia punya drone buatan sendiri di dua jalur sekaligus, jalur pertahanan yang digarap PT Dirgantara Indonesia bersama lembaga riset negara, dan jalur komersial yang diisi startup serta industri kecil menengah.
Yang membedakan keduanya adalah skala dan tujuan. Drone pertahanan seperti Wulung dan Elang Hitam berukuran pesawat kecil dengan misi pengawasan strategis, sedangkan drone komersial lokal umumnya menyasar pekerjaan spesifik seperti penyemprotan pertanian, pemetaan, dan pengiriman logistik.
Pertanyaan yang lebih menarik bukan sekadar ada atau tidak, melainkan seberapa dalam kandungan lokalnya dan di bagian mana nilai keasliannya benar benar berada.
Jalur Pertahanan, dari Wulung sampai Elang Hitam
Wulung adalah contoh drone lokal yang sudah lolos uji dan dipakai militer. Dikembangkan PT Dirgantara Indonesia bersama BPPT dan Balitbang Kementerian Pertahanan, drone ini memakai material komposit ringan, bermesin piston tunggal, berkapasitas bahan bakar 35 liter, dengan radius operasi sekitar 150 km dan bobot maksimum lepas landas sekitar 125 kg.
Pada 2016 Wulung memperoleh Sertifikat Tipe dari otoritas kelaikan militer Indonesia, dan unitnya ditempatkan antara lain di Skadron Udara 51 Lanud Supadio, Pontianak, untuk misi intai dan pengawasan.
Kelas di atasnya adalah Elang Hitam, drone jenis MALE dengan bobot maksimum lepas landas sekitar 1.300 kg dan mesin Rotax 915 iS. Setelah bertahun tahun tertunda, purwarupanya menjalani penerbangan perdana pada 28 Juli 2025 di Bandara Kertajati. Ambisinya jangka panjang, termasuk versi bersenjata, dan konteksnya dibahas pada tulisan soal senjata drone yang dimiliki Indonesia.
Startup yang Menggarap Pasar Komersial
Frogs Indonesia, yang diproduksi PT Inovasi Solusi Transportasi Indonesia, adalah salah satu pemain lokal paling luas jangkauannya. Portofolionya membentang dari drone semprot, drone pengawasan, drone kargo, hingga drone pemetaan, dan menurut klaim perusahaan sudah dipakai di lebih dari 21 provinsi serta 61 kota atau kabupaten.
Beehive Drones mengambil jalur berbeda. Didirikan tiga orang Indonesia yang bertemu saat menempuh studi magister di Inggris, perusahaan ini fokus pada drone semprot pertanian, drone penyerbukan, sampai uji coba pengiriman logistik medis ke daerah kepulauan. Potensi segmen pengiriman ini diulas terpisah pada artikel perkembangan drone delivery dan potensinya di Indonesia.
Model bisnis kedua perusahaan ini tidak menjual drone sebagai kotak, melainkan menjual solusi lengkap dengan dukungan operasional. Ini strategi yang masuk akal ketika bersaing langsung soal harga perangkat dengan produsen global sulit dimenangkan.
Klaster Kecil yang Jarang Terdengar
Di luar nama besar, ada klaster industri kecil menengah yang menggarap drone secara serius, banyak di antaranya berbasis di Yogyakarta. PT Karya Solusi Angkasa membuat drone pertanian berbahan komposit karbon lengkap dengan layanan perawatan dan suku cadang.
PT Inderaja Teknik Indonesia menggarap drone untuk penginderaan jauh dan pemetaan geospasial, sementara CV AMX UAV Technologies memproduksi drone untuk videografi, pemetaan, dan manajemen pertanian. Kementerian Perindustrian mencatat sekitar 24 industri kecil dan menengah drone yang mendapat pembinaan.
Skala mereka memang kecil, tetapi keberadaannya penting karena membangun rantai pasok, keahlian perakitan, dan layanan purnajual lokal yang selama ini menjadi kelemahan produk dalam negeri. Sektor yang menyerap output mereka dipetakan pada ulasan sektor industri yang memanfaatkan drone di Indonesia.
Baca Juga
Drone Indonesia Ada Berapa?

Seberapa Asli Sebuah Drone Lokal
Di sinilah pertanyaannya menjadi jujur. Sebagian besar drone lokal, baik pertahanan maupun komersial, masih memakai komponen inti impor seperti flight controller, motor, kamera, dan cip pemroses. Rantai pasok global untuk komponen ini memang belum punya alternatif dalam negeri yang matang.
Nilai keaslian drone lokal justru berada di lapis lain, yakni desain rangka, integrasi sistem, perangkat lunak misi, penyesuaian payload, dan pengujian di kondisi lapangan Indonesia. Kemampuan merancang drone yang tahan iklim tropis dan mudah diservis di daerah adalah keunggulan yang tidak dijual produsen global.
Untuk proyek pemerintah, kandungan lokal ini dihitung sebagai Tingkat Komponen Dalam Negeri, dan sering menjadi penentu lolos tidaknya sebuah produk pada tender. Aturan main soal perangkat impor yang menjadi pembanding dibahas pada aturan impor drone ke Indonesia.
Yang Menentukan Masa Depan Drone Lokal
Masa depan drone asli Indonesia tidak akan ditentukan oleh siapa yang paling nyaring mengklaim buatan dalam negeri, melainkan oleh siapa yang paling konsisten menghadirkan produk yang bisa diservis, didukung suku cadangnya, dan dipakai untuk pekerjaan nyata bertahun tahun.
Perjalanan panjang teknologi ini, dari alat militer menjadi alat kerja sipil, memberi gambaran ke mana arahnya, dan itu diuraikan pada tulisan sejarah drone dari alat militer hingga alat bisnis. Peta lengkap pemain dan tantangan industrinya ada di perkembangan industri drone lokal buatan Indonesia.
Apa pun mereknya, drone lokal butuh operator yang kompeten agar produknya terbukti andal di lapangan. Remote Pilot Academy menyiapkan jalur itu lewat Sertifikasi Remote Pilot untuk fondasi legal dan keselamatan, serta Drone Pertanian dan Perkebunan bagi yang menekuni penyemprotan, dua segmen tempat produk lokal paling banyak dipakai.

Ditulis oleh
Founder & CEO, PT Remote Pilot Indonesia
Liu Purnomo adalah profesional industri drone, penulis, dan instruktur bersertifikat dengan lebih dari satu dekade pengalaman di teknologi UAV, pemetaan udara, dan penginderaan jauh (remote sensing). Sebagai Founder Remote Pilot Indonesia, ia berdedikasi untuk memajukan inovasi drone dan pendidikan profesional di Indonesia.


