Anda telah mengantongi Sertifikat Remote Pilot (RPC) yang diterbitkan oleh Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) melalui platform SIDOPI GO. Anda memahami regulasi ruang udara Indonesia, mahir mengoperasikan drone sesuai prosedur standar, dan siap untuk berbagai misi komersial di tanah air. Namun, bagaimana jika ada kesempatan atau keinginan untuk menerbangkan drone di luar negeri? Apakah RPC Anda otomatis berlaku di yurisdiksi negara lain?
Jawabannya tidak sesederhana itu. Layaknya SIM kendaraan yang tidak otomatis berlaku lintas negara, sertifikasi pilot drone juga memiliki batasan geografis. Regulasi penerbangan drone sangat bervariasi antar negara, bahkan ada yang belum memiliki kerangka hukum yang komprehensif. Pemahaman mendalam mengenai hal ini sangat krusial, terutama bagi para profesional yang berencana melakukan operasi drone di kancah internasional.
Artikel ini akan mengupas tuntas validitas sertifikasi pilot drone Indonesia di luar negeri, serta langkah-langkah yang perlu Anda tempuh untuk memastikan operasi drone Anda tetap legal dan aman di berbagai belahan dunia.
Regulasi Drone Bersifat Nasional, Mengapa RPC Indonesia Tidak Otomatis Berlaku Global?
Setiap negara memiliki kedaulatan atas wilayah udaranya, dan ini mencakup regulasi operasional pesawat tanpa awak atau drone. RPC yang Anda miliki adalah bukti kompetensi dan kepatuhan terhadap regulasi penerbangan sipil Indonesia, khususnya PM 63 Tahun 2021 tentang SPUKTA dan regulasi terkait lainnya. Regulasi ini dirancang untuk kondisi geografis, demografi, dan kebutuhan keamanan nasional Indonesia.
Oleh karena itu, RPC Anda adalah dokumen legal yang diakui penuh di seluruh wilayah Indonesia. Namun, ketika Anda melintasi batas negara, Anda otomatis berada di bawah yurisdiksi regulasi penerbangan negara tujuan. Proses registrasi drone di Indonesia, misalnya, dilakukan melalui sistem SIDOPI yang dikelola oleh Kementerian Perhubungan. Sistem serupa dengan persyaratan berbeda mungkin ada di negara lain, dan sertifikat dari negara asal seringkali tidak serta merta diakui.
Meskipun ada upaya harmonisasi regulasi penerbangan global oleh organisasi seperti ICAO (International Civil Aviation Organization), implementasinya di tingkat negara masih sangat beragam. Ini berarti standar pelatihan, klasifikasi drone, batas ketinggian terbang, persyaratan perizinan, dan bahkan definisi 'operasi komersial' bisa sangat berbeda antara satu negara dengan negara lainnya. Untuk penggunaan komersial, sertifikasi dari negara setempat atau izin khusus biasanya wajib dimiliki.
Langkah Strategis untuk Terbang Drone di Luar Negeri
Untuk memastikan Anda dapat mengoperasikan drone secara legal dan aman di luar negeri, beberapa langkah proaktif perlu Anda lakukan. Pendekatan yang paling aman adalah dengan mengasumsikan bahwa RPC Anda tidak berlaku, dan Anda perlu memahami serta memenuhi persyaratan negara tujuan.
1. Riset Mendalam Regulasi Negara Tujuan
Ini adalah langkah paling krusial. Sebelum merencanakan penerbangan, lakukan riset komprehensif mengenai regulasi drone di negara yang akan Anda kunjungi. Cari informasi spesifik dari otoritas penerbangan sipil setempat (misalnya FAA di Amerika Serikat, EASA di Uni Eropa, CAA di Inggris). Perhatikan hal-hal seperti, persyaratan pendaftaran drone, lisensi pilot yang dibutuhkan (jika ada), batasan berat drone, zona larangan terbang, aturan privasi, dan apakah ada perbedaan regulasi untuk penggunaan rekreasi versus komersial.
Beberapa negara mungkin memiliki persyaratan yang lebih ringan untuk drone di bawah 250 gram, mirip dengan beberapa diskusi mengenai sertifikasi pilot drone untuk drone di bawah 250 gram di Indonesia. Namun, ini tidak selalu berlaku secara universal. Untuk operasi profesional seperti survei atau pemetaan, pastikan Anda juga memahami standar data geospasial lokal.
2. Pertimbangkan Lisensi atau Izin Lokal
Jika Anda berencana untuk operasi komersial, kemungkinan besar Anda perlu memperoleh lisensi atau izin pilot drone dari negara tujuan. Proses ini bisa melibatkan ujian teori dan/atau praktik, yang materinya mungkin berbeda dari Sertifikasi Remote Pilot (RPC) yang Anda miliki. Beberapa negara mungkin menawarkan jalur konversi atau pengakuan sebagian untuk lisensi dari negara lain, namun ini jarang terjadi dan memerlukan verifikasi langsung dengan otoritas setempat. Dalam banyak kasus, Anda mungkin harus menempuh seluruh proses sertifikasi dari awal.
Selain sertifikasi pilot, perhatikan juga izin operasional untuk drone itu sendiri. Beberapa negara mewajibkan setiap drone terdaftar dan memiliki asuransi pihak ketiga yang valid di yurisdiksi mereka.
3. Manfaatkan Bantuan Lokal
Untuk operasi yang kompleks atau di negara dengan regulasi yang kurang jelas, bekerja sama dengan 'fixer' atau konsultan lokal yang berpengalaman dalam perizinan drone dapat sangat membantu. Mereka dapat memandu Anda melalui birokrasi, membantu penerjemahan, dan memastikan semua persyaratan terpenuhi. Beberapa operator tur lokal juga menyediakan layanan drone, termasuk pengurusan perizinan, yang bisa menjadi opsi praktis bagi wisatawan.
Bagi profesional yang bergerak di bidang survei dan pemetaan, misalnya, mungkin akan ada persyaratan tambahan terkait sertifikasi BNSP Survei Pemetaan Udara atau standar akurasi data yang harus dipenuhi, yang bisa jadi lebih mudah diurus dengan bantuan ahli lokal.
Masa Depan Harmonisasi Regulasi Drone Global
Industri drone berkembang sangat pesat, dan kebutuhan akan harmonisasi regulasi di tingkat internasional semakin mendesak. Organisasi seperti ICAO terus berupaya untuk mengembangkan kerangka kerja global yang dapat diadopsi oleh negara-negara anggotanya, yang diharapkan dapat mempermudah pergerakan pilot dan drone antar negara di masa depan.
Meski demikian, proses ini membutuhkan waktu. Untuk saat ini, prinsip kehati-hatian dan kepatuhan terhadap regulasi lokal adalah kunci. Jangan pernah berasumsi bahwa sertifikasi dari satu negara otomatis berlaku di negara lain. Selalu utamakan keselamatan dan legalitas demi kelancaran operasi drone Anda di mana pun Anda berada.
Memahami perbedaan regulasi ini adalah bagian dari keterampilan esensial pilot drone profesional. Jika Anda ingin memperdalam pemahaman mengenai regulasi drone, baik di tingkat nasional maupun sebagai fondasi untuk memahami regulasi internasional, Remote Pilot Academy menawarkan berbagai program pelatihan yang komprehensif. Mulai dari Pelatihan Dasar Pengenalan Drone hingga sertifikasi lanjutan, kami siap membekali Anda dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menjadi pilot drone yang kompeten dan bertanggung jawab di mana saja.

Ditulis oleh
Founder & CEO, PT Remote Pilot Indonesia
Liu Purnomo adalah profesional industri drone, penulis, dan instruktur bersertifikat dengan lebih dari satu dekade pengalaman di teknologi UAV, pemetaan udara, dan penginderaan jauh (remote sensing). Sebagai Founder Remote Pilot Indonesia, ia berdedikasi untuk memajukan inovasi drone dan pendidikan profesional di Indonesia.



