Bagi Anda yang berkecimpung di industri drone komersial di Indonesia, istilah 'rating' dan 'kelas' dalam sertifikasi remote pilot sering terdengar bergantian dan tidak jarang menimbulkan salah kaprah. Pemahaman yang tepat penting agar Anda tahu persis apa yang sebenarnya diatur oleh regulasi DKPPU dan apa yang hanya sebutan pasar.
Sistem Remote Pilot Certificate (RPC) di Indonesia diterbitkan oleh Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kementerian Perhubungan melalui SIDOPI GO. Landasannya adalah CASR (PKPS) Bagian 107, yang diadopsi dari standar FAA Part 107, ditambah PM 63 Tahun 2021. RPC wajib bagi setiap pilot yang mengoperasikan pesawat udara tanpa awak secara komersial.
Apa yang Dimaksud 'Rating' pada RPC
Di dalam kerangka CASR 107, rating yang melekat pada RPC adalah small unmanned aircraft system rating. Ini adalah satu rating tunggal untuk mengoperasikan pesawat udara tanpa awak dengan berat lepas landas maksimum sampai 25 kg. Lingkupnya ditentukan oleh berat wahana, bukan oleh bentuk atau konfigurasinya.
Artinya, tidak ada 'Multirotor Rating', 'Fixed-Wing Rating', atau 'VTOL Rating' yang terpisah pada RPC Indonesia. Seorang pemegang RPC yang sah, secara sertifikat, boleh mengoperasikan quadcopter, hexacopter, drone sayap tetap, maupun VTOL, selama wahananya masih di bawah 25 kg dan operasinya berada dalam batasan standar. Perbedaan keterampilan menerbangkan tiap jenis wahana tetap nyata dan penting, dan itu ranah latihan praktik, sementara ratingnya sama di atas kertas.
Drone dengan berat di atas 25 kg berada di luar lingkup CASR 107 dan tunduk pada ketentuan kelaikudaraan serta perizinan yang lebih ketat. Di sinilah klasifikasi drone berdasarkan berat benar-benar menentukan jalur regulasi Anda.
Apa yang Dimaksud 'Kelas' atau 'Kategori'
Regulasi tidak mengenal jenjang 'kelas' pilot yang resmi seperti kelas 1, 2, dan 3. Yang ada adalah pengelompokan berbasis berat wahana dan jenis operasi, yang menentukan persyaratan registrasi wahana dan batasan operasional. Sebutan 'kelas dasar' dan 'kelas lanjut' yang beredar di pasar sebenarnya mengacu pada tingkat kompleksitas operasi, bukan tingkatan formal pada sertifikat.
Operasi Standar
Operasi standar adalah penerbangan dalam jarak pandang visual (VLOS), pada siang hari, tidak melebihi ketinggian 120 meter (400 kaki) di atas permukaan tanah, tidak di atas kerumunan orang, dan tidak di ruang udara terkontrol. Seluruh operasi ini sudah tercakup oleh RPC standar tanpa tambahan apa pun. Materi pelatihannya berfokus pada area aeronautical knowledge yang diujikan DKPPU.
Operasi yang Memerlukan Izin Khusus
Operasi di luar batasan standar, seperti Beyond Visual Line of Sight (BVLOS), terbang malam, terbang di atas orang, di ruang udara terkontrol, atau di atas 120 meter, memerlukan izin atau otorisasi operasional khusus yang diajukan ke DKPPU. DKPPU memberikannya sebagai persetujuan atas skenario operasi tertentu, biasanya disertai kajian risiko, spesifikasi wahana dengan fitur keselamatan redundan, dan prosedur mitigasi. Istilah 'rating tambahan' tidak tepat untuk hal ini. Kualifikasi instruktur pun ditempuh lewat jalur pelatihan tersendiri.
Meluruskan Kesalahpahaman yang Umum
Kesalahpahaman paling sering adalah menganggap RPC harus "di-upgrade" dengan rating per jenis drone. Padahal satu RPC dengan rating small unmanned aircraft system sudah mencakup seluruh wahana di bawah 25 kg. Yang berkembang seiring pengalaman Anda adalah kompetensi praktik pada platform tertentu dan izin operasional untuk skenario berisiko lebih tinggi.
Untuk memastikan Anda beroperasi sesuai regulasi, pahami dua hal pada RPC Anda: kategori berat wahana yang boleh dioperasikan, dan apakah operasi yang Anda rencanakan termasuk standar atau butuh izin khusus. Rujukan regulasinya kami bahas lebih lengkap di panduan regulasi drone komersial berdasarkan aturan DKPPU.
Baca Juga
Sertifikasi Remote Pilot Melalui SIDOPI GO, Panduan Lengkap Langkah demi Langkah

Langkah Selanjutnya untuk Pilot Profesional
Karena sertifikatnya satu, fokus Anda ada pada membangun jam terbang dan pengalaman pada wahana yang benar-benar Anda pakai, lalu mengurus izin operasional saat kebutuhan misi meningkat. Pendekatan bertahap ini lebih realistis dan efisien biaya.
Jika Anda atau tim ingin memperluas kompetensi dan lingkup operasional drone, Remote Pilot Academy menyediakan pelatihan sertifikasi remote pilot dari tingkat dasar hingga penyesuaian untuk wahana dan misi spesifik, baik dalam format kelas reguler maupun in-house training. Kunjungi halaman pelatihan kami untuk program yang sesuai dengan kebutuhan Anda dan tim.

Ditulis oleh
Founder & CEO, PT Remote Pilot Indonesia
Liu Purnomo adalah profesional industri drone, penulis, dan instruktur bersertifikat dengan lebih dari satu dekade pengalaman di teknologi UAV, pemetaan udara, dan penginderaan jauh (remote sensing). Sebagai Founder Remote Pilot Indonesia, ia berdedikasi untuk memajukan inovasi drone dan pendidikan profesional di Indonesia.


