Perusahaan pemegang izin di lahan gambut dan kawasan hutan memikul kewajiban mengendalikan karhutla di wilayah kerjanya. Kewajiban ini tidak bisa sepenuhnya diserahkan ke pihak luar.
Bantuan dari lembaga penanggulangan bencana sering datang setelah api membesar. Jam-jam awal yang paling menentukan biasanya harus ditangani sendiri.
Tim drone internal yang terlatih memberi kemampuan patroli, verifikasi, dan pemetaan yang siap sepanjang musim kemarau. Membangunnya butuh lebih dari sekadar membeli wahana.
Menentukan Peran dan Ukuran Tim
Tim minimal terdiri dari beberapa pilot yang bisa bergantian sif, seorang pengolah data, dan seorang koordinator yang menjadi penghubung dengan posko. Satu pilot saja tidak cukup untuk operasi harian yang panjang.
Peran dipisah agar patroli tetap berjalan meski satu orang berhalangan. Ketergantungan pada satu individu adalah kelemahan yang sering baru terasa saat kondisi genting.
Ukuran tim menyesuaikan luas konsesi dan panjang jalur rawan. Kawasan yang sangat luas membutuhkan pembagian sektor dan mungkin kapabilitas Beyond Visual Line of Sight.
Menyusun SOP yang Bisa Dijalankan
SOP mencakup rute dan jadwal patroli, ambang pembatalan misi karena asap atau angin, alur pelaporan temuan, dan prosedur koordinasi ruang udara saat ada operasi pemadaman udara.
Prosedur koordinasi ini mengikuti koordinasi ruang udara dengan helikopter water bombing. Tanpa itu, kontribusi tim justru bisa membahayakan operasi.
SOP juga mengatur penyimpanan data untuk keperluan pelaporan dan pembuktian, sejalan dengan dokumentasi dan penegakan hukum karhutla.
Perangkat dan Perawatan
Armada minimal mencakup wahana pemantau dengan payload thermal dan zoom, ditambah cadangan untuk menjaga operasi tetap berjalan saat satu unit dirawat. Spesifikasinya dibahas di spesifikasi drone ideal untuk misi karhutla.
Stok baterai, pengisi daya lapangan, dan suku cadang habis pakai disiapkan sebelum kemarau. Rantai pasok yang lambat membuat satu kerusakan menghentikan patroli berhari-hari.
Jadwal perawatan dan kalibrasi dijalankan rutin, bukan menunggu ada masalah. Wahana yang gagal di atas titik api memperburuk situasi.
Baca Juga
Tantangan Menerbangkan Drone di Tengah Kabut Asap Tebal Karhutla

Membangun Kompetensi Tim Secara Terprogram
Setiap pilot menempuh Sertifikasi Remote Pilot (RPC) sebagai dasar legal dan teknis. Di atasnya, pembekalan pemetaan diperdalam lewat Fotogrametri dan Pemetaan Udara.
Pelatihan yang materinya disesuaikan dengan medan dan perangkat perusahaan bisa ditempuh lewat jalur In-House Training. Latihan di lokasi kerja sendiri lebih relevan daripada simulasi umum.
Tim yang dibangun dengan urutan yang benar, orang lebih dulu, lalu prosedur, lalu alat, menjadi kemampuan tetap yang bernilai setiap musim kemarau. Investasi ini juga menurunkan risiko sanksi akibat lalai mengendalikan api di wilayah sendiri.

Ditulis oleh
Founder & CEO, PT Remote Pilot Indonesia
Liu Purnomo adalah profesional industri drone, penulis, dan instruktur bersertifikat dengan lebih dari satu dekade pengalaman di teknologi UAV, pemetaan udara, dan penginderaan jauh (remote sensing). Sebagai Founder Remote Pilot Indonesia, ia berdedikasi untuk memajukan inovasi drone dan pendidikan profesional di Indonesia.


