Kabut asap adalah lingkungan kerja yang paling sering dihadapi pilot drone saat karhutla. Ia juga yang paling menuntut kehati-hatian.
Beberapa masalah muncul bersamaan, bukan satu per satu. Mengabaikan salah satunya berujung pada kehilangan wahana atau insiden yang lebih serius.
Pilot yang berpengalaman menyiapkan batas dan titik batal sebelum terbang. Keputusan di tengah asap tebal terlalu terburu-buru untuk diandalkan.
Jarak Pandang Visual Hilang
Aturan dasar operasi menuntut pilot menjaga kontak visual dengan wahana. Asap tebal membuat drone hilang dari pandangan hanya beberapa puluh meter dari titik lepas landas.
Ketika ini terjadi, operasi berubah menjadi di luar jarak pandang tanpa persiapan. Kondisi ini melanggar ketentuan kecuali sudah mengantongi otorisasi khusus.
Batas ketinggian dan jarak tetap mengikuti aturan ruang udara Indonesia. Kabut asap tidak mengubah kewajiban ini, hanya membuatnya lebih sulit dipatuhi.
Sensor dan Penghindar Rintangan Menurun
Sistem penghindar rintangan berbasis kamera dan sensor optik kehilangan keandalan di partikel asap padat. Wahana bisa melewati atau menabrak objek yang seharusnya terdeteksi.
Kamera navigasi bawah juga bisa gagal mengunci posisi saat permukaan tanah tertutup asap. Wahana lalu lebih bergantung pada satelit navigasi yang sinyalnya ikut melemah di sebagian kondisi.
Latar teknis soal geofencing dan batas otomatis ada di artikel geofencing. Fitur bantu ini tidak dirancang untuk kondisi ekstrem seperti kebakaran.
Kualitas Citra dan Sinyal
Asap menyerap dan menyebarkan cahaya, sehingga citra visual menjadi datar dan berkabut. Detail yang dibutuhkan untuk verifikasi sering hilang.
Kamera thermal lebih tahan karena membaca inframerah, tetapi partikel yang sangat padat tetap mengurangi kontras. Ada titik di mana bahkan thermal tidak lagi memberi gambar yang berguna.
Tautan transmisi video dan kendali juga bisa terpotong-potong. Di jarak jauh, gangguan ini memperbesar risiko kehilangan kendali penuh.
Baca Juga
Membangun Tim Drone Tanggap Karhutla di Perusahaan Perkebunan dan HTI

Menentukan Batas dan Titik Batal
Sebelum terbang, tim menetapkan ambang yang jelas dan tertulis. Contohnya, jika wahana tidak terlihat pada jarak rencana kerja, misi dihentikan.
Ambang lain bisa berupa level sinyal minimum atau perubahan arah angin yang membawa asap lebih pekat. Angka-angka ini disepakati di darat, bukan dikira-kira di udara.
Perencanaan misi pemetaan pada kondisi seperti ini dibahas di pemetaan sebaran karhutla. Misi yang dibatalkan tepat waktu adalah misi yang berhasil, bukan gagal.
Melatih Pengambilan Keputusan Ini
Disiplin membatalkan misi adalah bagian dari faktor manusia yang diajarkan dalam Sertifikasi Remote Pilot (RPC). Materi ini sering dianggap sepele sampai kondisi memaksa penerapannya.
Penerapannya untuk kondisi darurat diperdalam di program Drone untuk Penanggulangan Bencana. Simulasi membantu pilot mengenali kapan situasi sudah melewati batas aman.
Pilot terbaik di operasi karhutla adalah yang tahu kapan menahan diri. Kehilangan satu wahana karena memaksakan diri justru mengurangi kemampuan tim untuk hari-hari berikutnya.

Ditulis oleh
Founder & CEO, PT Remote Pilot Indonesia
Liu Purnomo adalah profesional industri drone, penulis, dan instruktur bersertifikat dengan lebih dari satu dekade pengalaman di teknologi UAV, pemetaan udara, dan penginderaan jauh (remote sensing). Sebagai Founder Remote Pilot Indonesia, ia berdedikasi untuk memajukan inovasi drone dan pendidikan profesional di Indonesia.


