Mendapatkan Sertifikasi Remote Pilot (RPC) adalah langkah krusial bagi siapa pun yang ingin mengoperasikan drone secara profesional di Indonesia. Prosesnya, yang diatur oleh Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) melalui sistem SIDOPI GO, memerlukan ketelitian dan pemahaman menyeluruh terhadap regulasi yang berlaku. Namun, tidak jarang calon pilot melakukan kesalahan-kesalahan mendasar yang berujung pada penundaan, penolakan, atau bahkan pembatalan pengajuan.
Sebagai penyedia pelatihan sertifikasi drone terkemuka, Remote Pilot Academy memahami betul seluk-beluk proses ini. Kami telah mengidentifikasi beberapa kekeliruan fatal yang seringkali dilakukan oleh para pemohon. Dengan memahami dan menghindari kesalahan-kesalahan ini, Anda dapat memastikan perjalanan menuju lisensi pilot drone profesional berjalan mulus dan efisien.
Artikel ini akan mengulas tujuh kesalahan umum yang wajib Anda hindari saat mengajukan Sertifikasi Remote Pilot. Mari kita selami lebih dalam agar Anda tidak mengulanginya.
Tidak Mengikuti Ground School di UASTC Terakreditasi
Kesalahan pertama dan paling mendasar adalah mencoba mengajukan RPC tanpa melalui pelatihan di UAS Training Center (UASTC) yang terakreditasi oleh DKPPU. Banyak yang berasumsi bahwa kemampuan terbang secara otodidak sudah cukup, atau sertifikat dari lembaga tidak resmi bisa diterima. Padahal, [] SIDOPI GO secara eksplisit mewajibkan adanya sertifikat pelatihan dari UASTC yang diakui.
Tanpa sertifikat ini, aplikasi Anda tidak akan pernah lolos tahap verifikasi awal. DKPPU akan memverifikasi kesesuaian sertifikat pelatihan dengan UASTC yang terdaftar. [] Lembaga diklat terakreditasi seperti Remote Pilot Indonesia memastikan kurikulum Anda sesuai standar CASR Part 107 dan materi ujian DKPPU, mencakup regulasi, meteorologi, dan navigasi.
Mengikuti pelatihan di UASTC bukan hanya formalitas, tetapi juga pondasi penting untuk membangun pemahaman yang komprehensif tentang teori dan praktik penerbangan drone yang aman dan legal. Ini termasuk persiapan untuk ujian teori dan praktik yang akan Anda hadapi nanti.
Dokumen Persyaratan Tidak Lengkap atau Tidak Valid
Proses pengajuan RPC di SIDOPI GO menuntut kelengkapan dan keabsahan dokumen. Seringkali, pemohon mengunggah dokumen yang tidak memenuhi standar atau ada yang terlewat. Dokumen seperti KTP, SIM, pas foto berlatar merah, dan sertifikat pelatihan UASTC harus jelas, tidak terpotong, dan valid.
Satu poin krusial yang sering diabaikan adalah surat keterangan sehat dari dokter. [] Surat ini hanya berlaku 72 jam sejak diterbitkan. Jika Anda mengurusnya terlalu jauh dari tanggal pengajuan di SIDOPI GO, kemungkinan besar akan ditolak. Pastikan Anda mengurus surat sehat pada hari yang sama atau sehari sebelum pengajuan untuk menghindari masalah ini.
Selain itu, pastikan data yang Anda isi di SIDOPI GO konsisten dengan data pada dokumen yang diunggah. Ketidaksesuaian kecil sekalipun dapat menyebabkan berkas dikembalikan untuk diperbaiki, memperpanjang waktu tunggu pengajuan Anda.
Mengabaikan Persyaratan Kemampuan Bahasa Inggris
Salah satu persyaratan yang kerap dianggap remeh adalah kemampuan membaca, berbicara, menulis, dan memahami bahasa Inggris. [] Banyak calon pilot beranggapan ini hanya formalitas centang kotak. Namun, persyaratan ini memiliki dasar yang kuat dan praktis.
Istilah-istilah penerbangan, data cuaca seperti METAR/TAF, dan prosedur NOTAM (Notice to Airmen) standar internasional umumnya menggunakan bahasa Inggris. Kemampuan ini sangat dibutuhkan saat operasi drone, terutama dalam membaca peta aeronautika, memahami instruksi, atau berkomunikasi dalam skenario tertentu. Mengabaikan aspek ini bisa menjadi kendala serius, bahkan saat ujian praktik.
Meningkatkan kemampuan bahasa Inggris Anda, setidaknya pada level pemahaman dasar penerbangan, akan sangat membantu kelancaran proses sertifikasi dan juga operasi drone di masa depan.
Baca Juga
Evolusi Regulasi Sertifikasi Pilot Drone di Indonesia, Dari Awal Hingga Era SIDOPI GO

Usia Minimum Tidak Terpenuhi
Persyaratan usia minimum adalah 17 tahun untuk dapat mengajukan Sertifikasi Remote Pilot. Meskipun ini terkesan jelas, ada beberapa kasus di mana pemohon mengajukan aplikasi sebelum mencapai usia tersebut, baik karena ketidaktahuan atau asumsi bahwa proses bisa dimulai lebih awal. [] KTP atau paspor yang valid akan menjadi bukti usia Anda.
Aplikasi yang diajukan oleh individu di bawah usia 17 tahun akan otomatis ditolak. Penting untuk memastikan semua persyaratan dasar, termasuk usia, sudah terpenuhi sebelum memulai proses pendaftaran di SIDOPI GO. Ini menghindari pemborosan waktu dan tenaga.
Jika Anda belum mencapai usia 17 tahun namun berencana menjadi pilot drone profesional, gunakan waktu ini untuk memperdalam pengetahuan teori dan melatih keterampilan terbang Anda.
Tidak Memahami Batasan Operasi Sesuai CASR Part 107
Meskipun sertifikasi belum di tangan, calon pilot diharapkan memiliki pemahaman awal tentang batasan operasi drone yang berlaku. Beberapa pemohon mungkin tidak terlalu memperhatikan detail ini, padahal pemahaman regulasi adalah bagian inti dari ujian teori dan praktik.
CASR Part 107 menetapkan batasan operasi, seperti ketinggian maksimum 400 kaki (sekitar 120 meter) di atas permukaan tanah, kecepatan maksimum 87 knot (sekitar 161 km/jam), dan operasi hanya pada siang hari kecuali dengan izin khusus. [] Ketidakpahaman akan batasan ini bisa menjadi masalah saat ujian praktik, di mana penguji akan menilai kemampuan Anda dalam mematuhi prosedur normal dan darurat.
Menguasai regulasi ini bukan hanya untuk lulus ujian, tetapi juga untuk memastikan keselamatan penerbangan dan kepatuhan hukum saat Anda sudah menjadi pilot bersertifikat. Ini juga menjadi dasar untuk memahami perbedaan antara berbagai jenjang sertifikasi pilot drone di Indonesia.
Riwayat Pelanggaran yang Tidak Diungkapkan
DKPPU memiliki kebijakan ketat terkait riwayat pelanggaran penerbangan. CASR Part 107 mengatur bahwa riwayat pelanggaran terkait zat terlarang dapat mengakibatkan penolakan pengajuan RPC hingga satu tahun, atau pencabutan sertifikat yang sudah diterbitkan. [] Tidak mengungkapkan informasi ini secara jujur saat pendaftaran dapat dianggap sebagai upaya penipuan dan berujung pada sanksi yang lebih berat.
Penting untuk selalu jujur dan transparan dalam setiap informasi yang Anda berikan selama proses pengajuan. Jika ada riwayat yang berpotensi menjadi masalah, konsultasikan dengan UASTC atau pihak berwenang untuk memahami dampaknya dan langkah-langkah yang mungkin perlu diambil.
Integritas adalah salah satu aspek penting dalam dunia penerbangan, dan ini dimulai sejak tahap pengajuan sertifikasi.
Baca Juga
Sertifikasi Pilot Drone di Indonesia, Meluruskan Mitos dan Mengungkap Fakta Penting

Tidak Membedakan RPC dan Sertifikat Operator
Banyak calon pilot masih bingung antara Sertifikasi Remote Pilot (RPC) dan Sertifikat Operator. RPC adalah bukti kompetensi individu dalam mengoperasikan drone, sedangkan Sertifikat Operator dipegang oleh badan usaha yang menjual jasa drone. [] Perusahaan drone komersial membutuhkan keduanya untuk beroperasi secara legal.
Kesalahan dalam memahami perbedaan ini bisa berdampak pada perencanaan karier atau bisnis Anda. Jika Anda berencana mendirikan perusahaan jasa drone, Anda tidak hanya membutuhkan RPC pribadi, tetapi juga harus memastikan entitas bisnis Anda memiliki Sertifikat Operator yang sah. Membedah Sertifikasi Remote Pilot (RPC) dan Sertifikat Kompetensi BNSP lebih lanjut dapat membantu Anda memahami lanskap sertifikasi yang lebih luas.
Pemahaman yang jelas tentang jenis-jenis sertifikasi yang dibutuhkan akan membantu Anda merencanakan langkah-langkah yang tepat, baik untuk pengembangan diri sebagai pilot maupun untuk legalitas operasional bisnis Anda.
Masa Berlaku Sertifikat yang Terlewatkan
Sertifikasi Remote Pilot memiliki masa berlaku, umumnya 12 bulan sejak tanggal penerbitan. [] Kelalaian dalam memperpanjang sertifikat sebelum masa berlakunya habis adalah kesalahan umum yang dapat mengakibatkan Anda harus mengulang seluruh proses dari awal.
Perpanjangan RPC memerlukan bukti jam terbang minimum dalam periode tersebut. Jika jam terbang tidak terpenuhi, pilot mungkin perlu mengikuti ujian praktik ulang. Penting untuk selalu memantau tanggal kedaluwarsa sertifikat Anda dan segera memulai proses perpanjangan jauh sebelum batas waktu tiba.
Sebagai pilot profesional, menjaga lisensi tetap aktif adalah bagian dari tanggung jawab. Pastikan Anda mencatat tanggal penting ini dan mempersiapkan diri untuk proses perpanjangan agar tidak kehilangan validitas sertifikasi Anda. Untuk mempermudah proses ini, Remote Pilot Academy menyediakan berbagai program pelatihan yang relevan untuk membantu pilot menjaga dan meningkatkan kompetensinya.

Ditulis oleh
Founder & CEO, PT Remote Pilot Indonesia
Liu Purnomo adalah profesional industri drone, penulis, dan instruktur bersertifikat dengan lebih dari satu dekade pengalaman di teknologi UAV, pemetaan udara, dan penginderaan jauh (remote sensing). Sebagai Founder Remote Pilot Indonesia, ia berdedikasi untuk memajukan inovasi drone dan pendidikan profesional di Indonesia.

