Inovasi dalam teknologi nirawak terus melahirkan solusi-solusi disruptif, salah satunya adalah High-Altitude Platform Station (HAPS). HAPS merupakan wahana dirgantara super, sering disebut sebagai 'satelit semu', yang beroperasi di lapisan stratosfer pada ketinggian antara 18 hingga 21 kilometer di atas permukaan Bumi. Berbeda dengan satelit konvensional yang mengorbit jauh lebih tinggi, posisi HAPS yang lebih dekat memungkinkan latensi sinyal yang jauh lebih rendah, sebuah keunggulan krusial untuk aplikasi yang membutuhkan respons cepat seperti panggilan video atau aplikasi darurat.
Teknologi ini dirancang untuk berfungsi layaknya menara telekomunikasi 'terbang', yang mampu menyediakan layanan komunikasi langsung ke perangkat pengguna (direct-to-device), termasuk ponsel biasa, tanpa memerlukan peralatan khusus. Konsep ini menjanjikan perluasan jangkauan jaringan telekomunikasi secara signifikan, terutama untuk wilayah-wilayah terpencil atau yang sulit dijangkau infrastruktur darat.
Di Indonesia, potensi HAPS sedang dieksplorasi secara serius. Mitratel, anak perusahaan Telkom, telah menjalin kerja sama dengan AALTO HAPS Ltd. (anak perusahaan Airbus) untuk menguji dan menerapkan teknologi Stratocraft Zephyr. Kolaborasi ini bertujuan untuk mengatasi tantangan konektivitas di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) serta mendukung pemulihan layanan saat terjadi bencana, menegaskan urgensi solusi inovatif seperti HAPS di negara kepulauan yang luas ini.
Bagaimana HAPS Beroperasi sebagai Menara Terbang Stratosferis?
Secara teknis, HAPS seperti Zephyr dirancang khusus untuk beroperasi sebagai menara terbang stratosferis. Wahana nirawak bertenaga surya ini mampu mempertahankan posisinya di ketinggian puluhan kilometer selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, seperti yang ditunjukkan oleh Zephyr yang mencetak rekor penerbangan 67 hari berturut-turut. Kemampuan ini didukung oleh sistem tenaga surya yang efisien, memungkinkan drone untuk mengisi ulang baterai di siang hari dan beroperasi menggunakan energi tersimpan di malam hari.
Peran utamanya adalah sebagai lapisan akses (access-layer) dalam jaringan telekomunikasi, bukan hanya platform backhaul. Ini berarti HAPS dapat terhubung secara langsung ke perangkat pengguna di darat, memancarkan sinyal 4G, bahkan 5G, dari ketinggian. Integrasinya ke dalam jaringan yang sudah ada relatif fleksibel, karena operator tidak perlu mengubah model bisnis spektrum atau infrastruktur backhaul mereka. HAPS secara efektif bertindak sebagai 'sel' tambahan dalam Radio Access Network (RAN) operator, memperluas cakupan tanpa perlu membangun menara fisik baru di darat.
AALTO sebagai penyedia teknologi HAPS akan menyediakan Stratocraft, antena, perangkat radio yang diperlukan baik di wahana maupun di ground gateway, serta sumber daya listriknya. Ini memungkinkan HAPS untuk menyediakan konektivitas yang andal di area yang sebelumnya tidak terlayani atau memiliki infrastruktur yang minim.
Keunggulan HAPS Dibanding Solusi Konektivitas Lain
Salah satu keunggulan utama HAPS adalah lokasinya yang relatif dekat dengan Bumi dibandingkan satelit Low Earth Orbit (LEO) sekalipun. Ketinggian operasional 18-21 km ini secara signifikan mengurangi latensi sinyal, menjadikannya ideal untuk aplikasi yang sensitif terhadap waktu tunda. Selain itu, kemampuan HAPS untuk menyediakan konektivitas langsung ke ponsel biasa tanpa perangkat tambahan menjadi nilai jual yang sangat menarik, terutama di daerah terpencil.
Berbeda dengan pembangunan infrastruktur menara telekomunikasi darat yang memakan waktu dan biaya, terutama di medan yang sulit, HAPS menawarkan solusi penyebaran yang lebih cepat dan fleksibel. Drone ini dapat diposisikan tepat di atas area yang membutuhkan cakupan, dan bahkan dapat dipindahkan untuk mendukung area yang terkena dampak bencana alam. Kemampuan ini juga melengkapi peran drone fixed wing atau drone VTOL yang sering digunakan untuk survei dan pemetaan pasca-bencana.
Meski demikian, teknologi HAPS masih perlu melewati berbagai uji coba dan regulasi. World Radio Communication Conference (WRC) telah menyatakan bahwa HAPS dapat beroperasi di Indonesia menggunakan frekuensi 900 MHz, 1800 MHz, 2.1 GHz, dan 2.6 GHz, yang merupakan ekosistem 4G matang di Indonesia. Namun, aspek regulasi lalu lintas udara dan potensi interferensi frekuensi tetap menjadi perhatian utama yang membutuhkan koordinasi erat dengan pihak berwenang seperti DKPPU.
Potensi Aplikasi HAPS di Berbagai Sektor
Di luar telekomunikasi, HAPS memiliki beragam aplikasi lain yang sangat menarik. Kemampuannya untuk tetap berada di suatu wilayah dalam jangka waktu lama menjadikannya platform ideal untuk pengamatan dan penginderaan jauh. Ini termasuk deteksi dini kebakaran hutan, pemantauan cuaca, pemantauan emisi, dan pengendalian tumpahan polutan. Bagi pemerintah dan pasukan keamanan, HAPS dapat digunakan untuk pengawasan perbatasan dan manajemen lalu lintas.
Pemanfaatan drone dalam fotogrametri dan pemetaan udara sudah menjadi hal lumrah, namun HAPS membuka dimensi baru untuk pemantauan skala besar dan berkelanjutan. Misalnya, untuk sektor kehutanan dan lingkungan, HAPS dapat memberikan data real-time yang krusial untuk konservasi dan pengelolaan sumber daya alam, melengkapi peran drone untuk kehutanan konvensional.
Meskipun teknologi ini masih memerlukan pembuktian lebih lanjut dan penyesuaian regulasi, potensi HAPS untuk mengubah lanskap konektivitas dan aplikasi pengawasan sangatlah besar. Keberadaannya akan sangat penting untuk mendukung pengembangan infrastruktur digital yang merata di seluruh pelosok Indonesia dan dunia.
Baca Juga
Mengenal Teknologi Ornithopter, Drone Masa Depan yang Terbang Mengepakkan Sayap

Masa Depan Konektivitas dengan Teknologi HAPS
Pengembangan HAPS seperti Zephyr oleh AALTO dan kemitraannya dengan Mitratel menandai langkah maju yang signifikan dalam upaya menghadirkan konektivitas universal. Konsep 'BTS Terbang' ini menawarkan solusi yang fleksibel dan efisien dibandingkan dengan pembangunan infrastruktur darat di lokasi-lokasi sulit, serta menjadi alternatif menarik untuk satelit yang memiliki latensi lebih tinggi.
Namun, tantangan regulasi, khususnya terkait lalu lintas udara dan alokasi frekuensi, menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Para pengelola dan operator HAPS perlu memastikan bahwa operasional tidak mengganggu penerbangan lain dan frekuensi yang digunakan tidak menyebabkan interferensi. Ini membutuhkan kolaborasi erat antara penyedia teknologi, operator telekomunikasi, dan regulator.
Bagi Anda yang tertarik dengan masa depan teknologi drone dan ingin terlibat dalam inovasi seperti HAPS, memiliki sertifikasi dan pemahaman mendalam tentang operasional drone adalah fundamental. Remote Pilot Academy menawarkan berbagai program pelatihan, termasuk sertifikasi Remote Pilot (RPC) dan pelatihan dasar pengenalan drone, yang akan membekali Anda dengan pengetahuan dan keterampilan yang relevan. Dengan memiliki kompetensi yang tepat, Anda dapat menjadi bagian dari revolusi teknologi yang akan membentuk masa depan konektivitas dan berbagai aplikasi drone lainnya. Kunjungi halaman pelatihan kami untuk informasi lebih lanjut.

Ditulis oleh
Founder & CEO, PT Remote Pilot Indonesia
Liu Purnomo adalah profesional industri drone, penulis, dan instruktur bersertifikat dengan lebih dari satu dekade pengalaman di teknologi UAV, pemetaan udara, dan penginderaan jauh (remote sensing). Sebagai Founder Remote Pilot Indonesia, ia berdedikasi untuk memajukan inovasi drone dan pendidikan profesional di Indonesia.


