Remote Pilot AcademyRemote Pilot Academy

Cara Kamera Thermal Drone Mendeteksi Bara Api Bawah Permukaan Gambut

Kembali ke Blog
Teknologi11 Agustus 20262 menit baca

Cara Kamera Thermal Drone Mendeteksi Bara Api Bawah Permukaan Gambut

Kebakaran gambut merambat di bawah tanah dan menyala kembali berhari-hari setelah permukaan tampak padam. Artikel ini menjelaskan apa yang sebenarnya dibaca kamera thermal drone dan bagaimana membaca sinyalnya tanpa salah tafsir.

Citra thermal menampilkan bercak panas terang di permukaan lahan gambut yang berasap

Api gambut punya sifat yang menyusahkan regu pemadam. Ia menjalar lambat di dalam lapisan bahan organik, menghasilkan sedikit nyala terbuka, dan tetap hidup meski hujan turun di permukaan.

Regu yang menyatakan sebuah area sudah padam sering harus kembali beberapa hari kemudian karena titik yang sama menyala lagi. Bara tersembunyi itulah yang perlu ditemukan sebelum ditinggalkan.

Kamera thermal drone membantu pekerjaan ini, dengan catatan penggunanya paham benar apa yang sedang dilihat di layar. Bercak terang tidak otomatis berarti bara.

Yang Sebenarnya Dibaca Sensor Thermal

Kamera thermal tidak melihat api ataupun panas di dalam tanah secara langsung. Ia mengukur radiasi inframerah yang dipancarkan permukaan objek dalam bidang pandangnya.

Nilai itu diterjemahkan menjadi perkiraan suhu permukaan. Ketika ada bara di bawah tanah, yang terbaca drone adalah panas yang merambat naik dan menghangatkan lapisan permukaan di atasnya.

Prinsip ini identik dengan deteksi titik panas pada instalasi listrik. Bedanya, pada gambut jalur perpindahan panasnya lebih panjang dan lebih banyak diredam tanah lembap.

Kedalaman Bara dan Kekuatan Sinyal

Semakin dalam bara, semakin lemah jejak panas yang sampai ke permukaan. Bara beberapa sentimeter di bawah biasanya memunculkan bercak terang yang jelas.

Bara pada kedalaman puluhan sentimeter mungkin hanya menghasilkan gradien hangat yang halus. Kadang jejak itu tidak terbaca sama sekali pada siang hari yang terik karena seluruh permukaan sudah panas.

Karena itu waktu terbang sangat berpengaruh. Dini hari memberi kontras terbaik, karena tanah normal sudah mendingin sementara area di atas bara tetap hangat.

Membaca Citra Tanpa Salah Tafsir

Batu, logam, dan tanah gundul menyimpan panas matahari dan bisa tampak serupa bara di citra thermal. Verifikasi silang dengan kamera visual mengurangi kekeliruan ini.

Pengecekan apakah ada asap yang keluar dari titik itu, serta pengamatan pola sepanjang beberapa penerbangan, membantu memisahkan yang nyata dari yang palsu. Pola sebaran titik panas juga menunjukkan arah rambatan, informasi berharga untuk perencanaan pemadaman.

Setelah area dipadamkan, penerbangan thermal ulang berfungsi sebagai pemastian. Jika masih ada titik hangat, area itu belum aman ditinggalkan regu.

Baca Juga

Drone Thermal DJI untuk Deteksi Dini Titik Api di Lahan Gambut

Drone enterprise dengan gimbal kamera thermal terbang rendah di atas lahan gambut kering

Keterampilan Membaca Thermal sebagai Standar Tim

Interpretasi thermal yang keliru sama berbahayanya dengan tidak punya data sama sekali. Keterampilan ini tidak muncul otomatis dari membeli kamera mahal.

Ia dilatih di atas fondasi Sertifikasi Remote Pilot (RPC) dan diperdalam untuk konteks lahan pada program Drone untuk Kehutanan dan Lingkungan.

Sensor yang tepat hanya berguna di tangan operator yang tahu persis batas kemampuannya. Di lahan gambut, kesadaran akan batas itu yang membedakan pemadaman tuntas dari kebakaran yang menyala lagi seminggu kemudian.

Liu Purnomo

Ditulis oleh

Liu Purnomo

Founder & CEO, PT Remote Pilot Indonesia

Liu Purnomo adalah profesional industri drone, penulis, dan instruktur bersertifikat dengan lebih dari satu dekade pengalaman di teknologi UAV, pemetaan udara, dan penginderaan jauh (remote sensing). Sebagai Founder Remote Pilot Indonesia, ia berdedikasi untuk memajukan inovasi drone dan pendidikan profesional di Indonesia.