Api gambut punya sifat yang menyusahkan regu pemadam. Ia menjalar lambat di dalam lapisan bahan organik, menghasilkan sedikit nyala terbuka, dan tetap hidup meski hujan turun di permukaan.
Regu yang menyatakan sebuah area sudah padam sering harus kembali beberapa hari kemudian karena titik yang sama menyala lagi. Bara tersembunyi itulah yang perlu ditemukan sebelum ditinggalkan.
Kamera thermal drone membantu pekerjaan ini, dengan catatan penggunanya paham benar apa yang sedang dilihat di layar. Bercak terang tidak otomatis berarti bara.
Yang Sebenarnya Dibaca Sensor Thermal
Kamera thermal tidak melihat api ataupun panas di dalam tanah secara langsung. Ia mengukur radiasi inframerah yang dipancarkan permukaan objek dalam bidang pandangnya.
Nilai itu diterjemahkan menjadi perkiraan suhu permukaan. Ketika ada bara di bawah tanah, yang terbaca drone adalah panas yang merambat naik dan menghangatkan lapisan permukaan di atasnya.
Prinsip ini identik dengan deteksi titik panas pada instalasi listrik. Bedanya, pada gambut jalur perpindahan panasnya lebih panjang dan lebih banyak diredam tanah lembap.
Kedalaman Bara dan Kekuatan Sinyal
Semakin dalam bara, semakin lemah jejak panas yang sampai ke permukaan. Bara beberapa sentimeter di bawah biasanya memunculkan bercak terang yang jelas.
Bara pada kedalaman puluhan sentimeter mungkin hanya menghasilkan gradien hangat yang halus. Kadang jejak itu tidak terbaca sama sekali pada siang hari yang terik karena seluruh permukaan sudah panas.
Karena itu waktu terbang sangat berpengaruh. Dini hari memberi kontras terbaik, karena tanah normal sudah mendingin sementara area di atas bara tetap hangat.
Membaca Citra Tanpa Salah Tafsir
Batu, logam, dan tanah gundul menyimpan panas matahari dan bisa tampak serupa bara di citra thermal. Verifikasi silang dengan kamera visual mengurangi kekeliruan ini.
Pengecekan apakah ada asap yang keluar dari titik itu, serta pengamatan pola sepanjang beberapa penerbangan, membantu memisahkan yang nyata dari yang palsu. Pola sebaran titik panas juga menunjukkan arah rambatan, informasi berharga untuk perencanaan pemadaman.
Setelah area dipadamkan, penerbangan thermal ulang berfungsi sebagai pemastian. Jika masih ada titik hangat, area itu belum aman ditinggalkan regu.
Baca Juga
Drone Thermal DJI untuk Deteksi Dini Titik Api di Lahan Gambut

Keterampilan Membaca Thermal sebagai Standar Tim
Interpretasi thermal yang keliru sama berbahayanya dengan tidak punya data sama sekali. Keterampilan ini tidak muncul otomatis dari membeli kamera mahal.
Ia dilatih di atas fondasi Sertifikasi Remote Pilot (RPC) dan diperdalam untuk konteks lahan pada program Drone untuk Kehutanan dan Lingkungan.
Sensor yang tepat hanya berguna di tangan operator yang tahu persis batas kemampuannya. Di lahan gambut, kesadaran akan batas itu yang membedakan pemadaman tuntas dari kebakaran yang menyala lagi seminggu kemudian.

Ditulis oleh
Founder & CEO, PT Remote Pilot Indonesia
Liu Purnomo adalah profesional industri drone, penulis, dan instruktur bersertifikat dengan lebih dari satu dekade pengalaman di teknologi UAV, pemetaan udara, dan penginderaan jauh (remote sensing). Sebagai Founder Remote Pilot Indonesia, ia berdedikasi untuk memajukan inovasi drone dan pendidikan profesional di Indonesia.


