Remote Pilot AcademyRemote Pilot Academy

Bedah Buku Seni dan Filosofi Penerbangan Drone Karya Liu Purnomo

Kembali ke Blog
Buku9 Agustus 20269 menit baca

Bedah Buku Seni dan Filosofi Penerbangan Drone Karya Liu Purnomo

Buku baru Liu Purnomo menyusun sembilan bab pelatihan drone mengikuti fase penerbangan sungguhan, dari briefing sampai debrief, dengan filosofi keselamatan yang jarang dibahas modul teknis biasa.

Drone kompak diletakkan di atas meja kayu dengan pencahayaan hangat ruang baca

Lima nama menulis kata pengantar dan endorsement untuk satu buku setebal 194 halaman ini, dan bukan sembarang nama. Ketua Umum Asosiasi Pilot Drone Indonesia, General Manager AirNav Indonesia, Ketua Umum Federasi Drone Indonesia, seorang fotografer senior pemakai drone, sampai seorang dosen Politeknik Penerbangan Indonesia Curug yang pernah menjabat Direktur Navigasi Penerbangan, semuanya ikut memberi testimoni sebelum bab pertama dimulai. Jarang ada modul pelatihan drone yang dibuka dengan endorsement seberat ini.

Seni dan Filosofi Penerbangan Drone, ditulis Liu Purnomo dan diterbitkan PT Adab Indonesia Grup pada Februari 2026, terdaftar dengan ISBN 978-634-276-215-8 dan e-ISBN 978-634-276-216-5 untuk edisi PDF. Liu Purnomo sendiri adalah instruktur teori dan praktik UAV yang sudah melatih ribuan murid di seluruh Indonesia sekaligus Founder Remote Pilot Academy, jadi buku ini bukan ditulis dari jarak aman seorang pengamat, melainkan dari catatan lapangan lebih dari satu dekade.

Yang membuat buku ini berbeda dari kebanyakan modul drone bukan pada daftar istilah teknisnya, melainkan pada cara ia menyusun sembilan bab. Bukan diurutkan menurut abjad topik seperti buku panduan pada umumnya, tapi mengikuti tahapan sungguhan sebuah penerbangan, mulai dari ruang briefing sampai evaluasi setelah mendarat.

Sembilan Fase Penerbangan yang Jadi Kerangka Sembilan Bab

Prolog buku ini diberi judul Welcome on Board, dan dari situ pembaca diajak masuk ke sembilan bab yang masing masing memakai istilah penerbangan sungguhan sebagai judul, bukan sekadar nomor urut. Chapter I dinamai Briefing Room, Chapter II Pre Flight Check, Chapter III Cleared for Takeoff, Chapter IV Ascending, Chapter V Cruising Altitude, Chapter VI Navigating the Skies, Chapter VII Descent, Chapter VIII Landing, dan Chapter IX Post Flight Debrief, ditutup Epilog berjudul Ready for Next Mission.

Struktur ini bukan gimmick kosmetik. Setiap nama bab memang berisi materi yang cocok dengan fase penerbangan yang diwakilinya.

  • Briefing Room membahas alasan seseorang ingin terbang, jauh sebelum masuk ke hal teknis apa pun.
  • Pre Flight Check membahas tubuh drone, sensor, cara memilih unit, sampai kebiasaan checklist sebelum menyalakan baling baling.
  • Cruising Altitude baru masuk ke penerapan, mulai dari fotografi udara, videografi sinematik, pemetaan, sampai misi otonom.
  • Post Flight Debrief mengajak pembaca mengubah data hasil terbang menjadi cerita, portofolio, dan bahan evaluasi diri.

Efeknya, pembaca tidak hanya mempelajari teori secara terpisah pisah, tapi ikut mengalami satu penerbangan utuh dari halaman pertama sampai terakhir. Cara penyampaian semacam ini jarang ditemukan pada modul pelatihan drone di Indonesia, yang kebanyakan masih memakai format bab per topik teknis tanpa benang merah naratif.

Checklist dan IMSAFE Jadi Jantung Filosofi Buku Ini

Salah satu endorser buku ini, Ketua Umum Asosiasi Pilot Drone Indonesia Dr. M. Akbar Marwan, secara khusus menyoroti bagaimana buku ini menghidupkan budaya pre-flight discipline lewat pembahasan checklist. Bagian ini dibuka dengan cerita seorang operator yang saking percaya dirinya, membuka tas, memasang baling baling, dan lima menit kemudian sudah take off tanpa mengecek baterai, kompas, arah angin, atau aktivitas manusia di sekitar lokasi. Hasilnya, drone kehilangan sinyal dan jatuh menimpa tenda jualan warga di bawahnya.

Dari cerita itu, buku ini memperkenalkan kerangka IMSAFE yang lazim dipakai penerbangan sipil berawak, singkatan dari Illness, Medication, Stress, Alcohol, Fatigue, dan Emotion. Enam kata ini menekankan bahwa sebelum mengendalikan drone, seorang remote pilot harus lebih dulu mampu mengendalikan dirinya sendiri, bukan sekadar memastikan alatnya siap.

Buku ini juga mengutip lima sikap berbahaya yang diidentifikasi otoritas penerbangan Amerika Serikat FAA, yang disebut hazardous attitudes.

  • Anti-authority muncul saat pilot menolak prosedur dan merasa aturan hanya menghambat.
  • Impulsivity muncul saat pilot bertindak cepat tanpa mempertimbangkan konsekuensi.
  • Invulnerability muncul saat pilot merasa kecelakaan hanya menimpa orang lain.
  • Macho muncul saat pilot memaksakan diri demi membuktikan diri lebih hebat dari yang lain.
  • Resignation muncul saat pilot menyerah sebelum mencoba mendarat darurat dengan aman.

Bagian ini terasa relevan justru karena banyak kesalahan pemula lahir dari sikap, bukan dari kurangnya keterampilan menggerakkan tuas, sebagaimana juga dibahas di artikel 5 kesalahan fatal yang sering dilakukan pilot drone pemula.

Simulator Sebagai Ruang Aman untuk Gagal

Bab Pre Flight Check menyimpan satu cerita lama yang jadi bagian paling personal dari seluruh buku, tentang Mas Amir, murid yang rela datang jauh dari Bogor ke kantor SAMPAN di Pontianak pada tahun 2014. Waktu itu belum ada drone pabrikan yang stabil seperti sekarang, sehingga pelatihan memakai fixed wing rakitan sendiri, tanpa sensor canggih dan tanpa fitur hover otomatis.

Karena risiko pesawat rakitan itu stall dan jatuh sangat tinggi, Mas Amir harus berlatih di depan simulator selama lebih dari seminggu sebelum diizinkan terbang sungguhan. Ketika akhirnya pesawat itu mengudara di atas lahan gambut, tangannya sudah tenang, ia tahu kapan menambah gas, tahu rasanya pesawat yang mau stall, dan tahu cara membawa pulang pesawat dengan angin samping, semuanya lahir dari ratusan kali jatuh di dunia maya, bukan di lapangan sungguhan.

Buku ini menegaskan bahwa simulator bukan sekadar pengganti drone fisik yang mahal, melainkan ruang belajar yang dirancang khusus untuk kesalahan, tempat refleks terbentuk tanpa mempertaruhkan alat atau harga diri. Nasihatnya sederhana, biasakan tangan pada kontrol, biasakan mata membaca arah, dan biasakan pikiran berpikir dua langkah sebelum bertindak, jauh sebelum drone fisik pernah tersentuh sama sekali.

Kebiasaan berlatih dari simulator ini juga relevan bagi siapa pun yang baru mempertimbangkan drone pertamanya, sebagaimana dibahas di panduan memilih drone pertama untuk pemula yang ingin serius di bidang profesional, karena kebiasaan baik justru lebih murah dibangun sebelum unit pertama dibeli.

Baca Juga

Konsekuensi Hukum Berat Bagi Operator Drone Tanpa Sertifikat di Indonesia

Palu hakim dan miniatur drone, melambangkan sanksi hukum untuk pelanggaran regulasi drone

Dari Hukum di Langit sampai Etika dan Privasi di Ruang Udara

Chapter III, Cleared for Takeoff, menempatkan tiga subbab berurutan yang jarang dibahas satu napas dalam modul pelatihan drone, yaitu hukum di langit, soal izin, serta etika dan privasi. Buku ini menegaskan bahwa ruang udara bukan wilayah bebas tanpa aturan, melainkan aset bersama yang punya tata kelola, dan kepatuhan pada regulasi sipil bukan formalitas administratif, melainkan bagian dari ekosistem keselamatan penerbangan itu sendiri.

Penekanan pada kerangka berpikir remote pilot ini pula yang disorot Ketua Umum APDI dalam kata pengantarnya, khususnya soal prinsip regulasi sipil seperti CASR Part 107 dan mekanisme pendaftaran atau perizinan yang di Indonesia lazim dikenal lewat sistem SIDOPI. Pemahaman semacam ini sejalan dengan penjelasan lebih rinci soal sertifikasi Remote Pilot RPC yang wajib dimiliki pilot drone komersial, karena keduanya sama sama menegaskan bahwa legalitas bukan sekadar syarat administratif untuk terbang.

Bagian etika dan privasi melangkah lebih jauh dari sekadar hukum tertulis, membahas bagaimana kamera yang terpasang di drone bisa menjangkau ruang privat yang sebelumnya terlindungi jarak dan tembok, dan bagaimana seorang remote pilot profesional harus tahu batas antara mendokumentasikan dan mengintip. Ini pula yang membuat Ketua Umum Federasi Drone Indonesia menyebut buku ini bagus dijadikan pedoman saling menghormati sesama pengguna ruang udara.

Program Sertifikasi Remote Pilot RPC dari Remote Pilot Academy sendiri dirancang untuk menanamkan pemahaman regulasi semacam ini secara formal, sehingga bekal yang didapat dari membaca buku bisa lanjut diuji lewat sertifikasi resmi DKPPU.

Jalan Karier Remote Pilot yang Dibahas Tanpa Basa Basi

Bagian Jalan Karir di Epilog buku ini terasa berbeda dari bab bab sebelumnya karena bicara blak blakan soal bisnis, bukan sekadar teknik terbang. Buku ini mengingatkan bahwa harga drone yang makin terjangkau membuat barrier to entry industri ini makin rendah, sehingga yang benar benar membedakan satu pilot dengan pilot lain adalah kombinasi kemampuan teknis, pemahaman industri klien, sikap profesional, dan kemampuan menghadirkan nilai tambah di luar sekadar hasil terbang.

Nasihat soal harga pun ditulis tegas, jangan memulai karier dengan perang tarif karena itu mengunci posisi di segmen paling rentan, dan lebih baik memulai dari lingkup kecil dengan kualitas yang dijaga ketat, lalu membiarkan rekomendasi klien menaikkan tarif secara bertahap. Buku ini juga menyarankan membangun kekhasan, karena pilot yang dikenal sebagai spesialis inspeksi jembatan atau pemetaan mangrove jauh lebih mudah diingat klien dibanding pilot yang mengaku bisa semua tanpa wajah yang menonjol.

Topik pendapatan yang datang bergelombang, kebutuhan mencari mentor, sampai pentingnya memperbarui portofolio setiap tahun juga dibahas dengan detail praktis, bukan sekadar motivasi umum. Perspektif semacam ini melengkapi pembahasan soal prospek karier remote pilot bersertifikat di Indonesia, karena keduanya sama sama menekankan bahwa sertifikasi hanya pintu masuk, sementara reputasi jangka panjang dibangun lewat cara kerja sehari hari.

Baterai Solid State sampai BVLOS, Arah Teknologi yang Diramal Buku Ini

Bagian Arah Teknologi di Epilog memuat rujukan yang cukup mutakhir untuk ukuran buku cetak, termasuk rancangan aturan Part 108 yang diterbitkan otoritas penerbangan Amerika Serikat FAA pada Agustus 2025, yang menjadikan operasi Beyond Visual Line of Sight sebagai kegiatan rutin, menggantikan sistem waiver kasus per kasus yang selama ini memperlambat industri. Uni Eropa disebut menempuh jalur serupa lewat kerangka U-space dalam Peraturan Nomor 2021/664 sampai 666, yang mewajibkan empat layanan dasar di ruang udara tertentu.

Soal baterai, buku ini menyoroti baterai solid state sebagai kandidat pengganti LiPo karena memakai elektrolit padat yang menekan risiko kebakaran sekaligus menaikkan kepadatan energi jauh di atas sel lithium konvensional yang selama ini mentok di kisaran 250 Wh per kilogram. Sebagai bukti konkret, buku ini mengutip uji terbang EHang di Tiongkok yang pada 2025 menerbangkan pesawat penumpang otonom EH216-S selama 48 menit memakai baterai berkepadatan energi 480 Wh per kilogram.

Untuk misi bertahan lama, buku ini juga membahas sel bahan bakar hidrogen, mulai dari pesawat nirawak Ion Tiger milik Laboratorium Riset Angkatan Laut Amerika yang pernah terbang 26 jam, drone hidrogen cair Hylium Industries asal Korea Selatan yang terbang lebih dari lima setengah jam pada 2023, sampai rekor jarak terbang multirotor hidrogen sekitar 188 kilometer yang dicatat tim Universitas Beihang pada akhir 2025. Perkembangan seperti inilah yang membuat pemahaman soal BVLOS dan alasannya menjadi masa depan operasional drone komersial relevan dibaca berdampingan dengan bab ini.

Yang menarik, di tengah semua proyeksi teknologi itu, buku ini tetap menegaskan bahwa penilaian manusia, pemahaman konteks, etika profesional, dan tanggung jawab keselamatan tidak akan pernah bisa digantikan mesin secanggih apa pun. Sikap ini yang membuat bab teknologi paling futuristik sekalipun tetap berpijak pada filosofi yang sama dengan bab pertama buku ini.

Baca Juga

Panduan Regulasi Drone untuk Liputan Media dan Jurnalistik di Indonesia

Seorang jurnalis mengoperasikan drone di area perkotaan dengan gedung-gedung

Buku yang Layak Dibaca Sebelum Baling Baling Pertama Kali Berputar

Membaca Seni dan Filosofi Penerbangan Drone dari Prolog sampai Epilog memperlihatkan satu benang merah yang konsisten, bahwa kemampuan teknis menggerakkan tuas kendali hanya separuh dari yang dibutuhkan seorang remote pilot, sementara separuh lainnya adalah kesadaran situasi, kepatuhan pada regulasi, dan tanggung jawab terhadap ruang udara yang dipakai bersama. Fotografer senior Arbain Rambey bahkan menyebut buku ini seharusnya sudah ada sejak dulu, dan menyarankan siapa pun yang akan menerbangkan drone membacanya lebih dulu.

Buku ini cocok dijadikan bacaan wajib bagi pemula yang baru mempertimbangkan drone pertamanya, sekaligus bacaan refleksi bagi pilot berpengalaman yang mungkin sudah lama tidak meninjau ulang checklist dan kebiasaan pre-flight miliknya sendiri. Lembaga pelatihan dan komunitas pilot juga bisa menjadikannya referensi bersama, mengingat isinya menjembatani teori regulasi dengan praktik lapangan yang jarang ditemukan dalam satu buku yang sama.

Bagi pembaca yang ingin melanjutkan pemahaman dari halaman buku ke praktik lapangan yang terbimbing, program Pelatihan Dasar Drone dari Remote Pilot Academy menyediakan jalur belajar terstruktur mulai dari dasar aerodinamika sampai praktik terbang langsung, sejalan dengan filosofi yang ditawarkan buku ini bahwa kesiapan sejati dibangun bertahap, bukan didapat dalam sekali duduk.

Liu Purnomo

Ditulis oleh

Liu Purnomo

Founder & CEO, PT Remote Pilot Indonesia

Liu Purnomo adalah profesional industri drone, penulis, dan instruktur bersertifikat dengan lebih dari satu dekade pengalaman di teknologi UAV, pemetaan udara, dan penginderaan jauh (remote sensing). Sebagai Founder Remote Pilot Indonesia, ia berdedikasi untuk memajukan inovasi drone dan pendidikan profesional di Indonesia.