Dalam industri drone yang terus berkembang pesat, pemahaman mendalam tentang setiap komponen krusial menjadi sangat penting, terutama bagi para Remote Pilot profesional. Motor adalah jantung dari setiap drone multirotor, yang secara langsung memengaruhi kinerja, efisiensi, dan kapabilitas terbangnya. Namun, tidak semua motor diciptakan sama, dan dua tipe motor brushless yang paling umum ditemui adalah inrunner dan outrunner.
Meskipun keduanya termasuk dalam kategori motor brushless DC (BLDC) yang menawarkan efisiensi dan daya tahan lebih baik dibandingkan motor brushed konvensional, desain strukturalnya sangat berbeda. Perbedaan ini kemudian berimplikasi pada karakteristik performa, seperti torsi, putaran per menit (RPM), dan respons throttle, yang pada akhirnya menentukan aplikasi paling sesuai untuk masing-masing tipe motor. Memilih motor yang tepat adalah kunci untuk mengoptimalkan operasional drone Anda, baik untuk pemetaan, inspeksi, maupun aplikasi pertanian presisi.
Memahami nuansa antara desain motor inrunner dan outrunner akan membantu Anda membuat keputusan yang lebih tepat saat merakit atau meng-upgrade armada drone Anda. Pilihan yang tepat dapat meningkatkan daya angkat, memperpanjang waktu terbang, serta memberikan kontrol yang lebih presisi, faktor-faktor yang sangat kritis dalam operasional drone profesional.
Struktur Dasar dan Prinsip Kerja
Perbedaan paling fundamental antara motor inrunner dan outrunner terletak pada posisi relatif rotor dan statornya. Pada motor outrunner, stator (bagian yang diam dengan gulungan kawat tembaga) terletak di bagian dalam, sementara rotor (bagian yang berputar dengan magnet permanen) berada di luar dan mengelilingi stator. Desain ini sering disebut sebagai 'bell' atau 'lonceng' karena bentuk luarnya yang berputar.
Sebaliknya, motor inrunner memiliki desain di mana rotor (dengan magnet permanen) berada di bagian dalam dan berputar di sekitar poros tengah, sementara stator (dengan gulungan kawat) terletak di bagian luar dan statis. Perbedaan struktural inilah yang menjadi dasar bagi karakteristik kinerja unik masing-masing tipe motor. Rotor motor inrunner yang lebih kecil dan terkonsentrasi di dekat poros menghasilkan momen inersia yang lebih rendah.
Ketika arus listrik dialirkan melalui gulungan stator, medan magnet berputar dihasilkan. Pada motor outrunner, magnet permanen yang terpasang di bagian dalam 'lonceng' luar akan tertarik dan tertolak oleh medan magnet ini, menyebabkan seluruh rumah luar berputar. Karena baling-baling atau beban terpasang langsung pada bagian luar yang berputar ini, motor outrunner secara alami adalah desain penggerak langsung (direct drive) yang tidak memerlukan kotak roda gigi.
Outrunner, Raja Torsi untuk Multirotor
Mayoritas drone multirotor, seperti yang digunakan dalam fotogrametri dan pemetaan udara atau pertanian presisi, mengandalkan motor outrunner. Alasannya jelas, motor outrunner dirancang untuk menghasilkan torsi tinggi pada kecepatan putaran (RPM) yang relatif rendah. Desain rotor luar yang memiliki diameter lebih besar menciptakan lengan momen yang lebih panjang, memungkinkan output torsi yang lebih kuat dengan daya elektromagnetik yang sama dibandingkan motor inrunner berukuran serupa. Hal ini sangat ideal untuk memutar baling-baling besar secara efisien tanpa memerlukan gearbox.
Keunggulan torsi tinggi ini membuat motor outrunner sangat cocok untuk aplikasi direct-drive, di mana setiap motor langsung menggerakkan sebuah baling-baling. Ini menyederhanakan desain, mengurangi bobot, dan meningkatkan efisiensi karena tidak ada kehilangan daya pada transmisi roda gigi. Selain itu, motor outrunner umumnya memiliki kemampuan disipasi panas yang lebih baik karena permukaan luar yang berputar dan terpapar udara, membantu menjaga suhu operasional yang stabil, yang krusial untuk durasi penerbangan yang panjang.
Namun, ada beberapa pertimbangan. Motor outrunner memiliki momen inersia rotasi yang lebih tinggi karena massa berputarnya tersebar di diameter yang lebih besar. Ini berarti respons terhadap perubahan RPM bisa sedikit lebih lambat dibandingkan inrunner. Meski demikian, untuk sebagian besar aplikasi multirotor yang mengutamakan daya angkat dan efisiensi, karakteristik motor outrunner menjadikannya pilihan yang optimal.
Inrunner, Kecepatan Tinggi dan Respons Cepat
Motor inrunner, di sisi lain, lebih dikenal dengan kemampuan mencapai kecepatan putaran ekstrem (RPM sangat tinggi) dan respons throttle yang cepat. Dengan rotor yang lebih kecil dan terkonsentrasi di bagian dalam, momen inersia rotasinya menjadi jauh lebih rendah, memungkinkan motor untuk berakselerasi dan deselerasi dengan sangat cepat. Fitur ini menjadikannya pilihan ideal untuk aplikasi yang membutuhkan kelincahan dan kecepatan ekstrem, seperti drone balap FPV tertentu atau pesawat sayap tetap (fixed wing) berkecepatan tinggi.
Meskipun torsi langsung yang dihasilkan oleh inrunner pada ukuran yang sama cenderung lebih rendah dibandingkan outrunner, efisiensinya pada RPM tinggi sangat menonjol. Seringkali, motor inrunner dipasangkan dengan kotak roda gigi (gearbox) untuk mengurangi kecepatan dan meningkatkan torsi sesuai kebutuhan aplikasi. Bentuk silinder yang ringkas juga menjadi keunggulan, memungkinkan integrasi yang lebih mudah ke dalam desain yang sempit atau terbatas ruang, seperti pada perkakas listrik atau pompa.
Disipasi panas pada motor inrunner bisa menjadi tantangan karena rotor berada di dalam. Panas cenderung terakumulasi di bagian internal. Namun, untuk aplikasi drone multirotor, inrunner hanya muncul dalam kategori tertentu di mana RPM tinggi dan respons throttle yang cepat lebih penting daripada kepadatan torsi langsung. Contohnya adalah konfigurasi kipas bersaluran (ducted fan) atau aplikasi sayap tetap di mana kecepatan putaran tinggi mendorong baling-baling kecil beralur tinggi pada RPM ekstrem.
Baca Juga
Mengenal Flight Controller, Otak Drone dan Peran Algoritma PID dalam Menstabilkan Penerbangan

Memilih yang Tepat untuk Kebutuhan Drone Anda
Pilihan antara motor inrunner dan outrunner sangat bergantung pada spesifikasi dan tujuan penggunaan drone multirotor Anda. Untuk sebagian besar drone multirotor komersial dan industri yang memerlukan daya angkat tinggi, efisiensi dalam membawa beban, dan waktu terbang yang lama, motor outrunner adalah pilihan standar dan paling optimal. Kombinasi torsi tinggi, kesederhanaan direct-drive, dan disipasi panas yang efisien menjadikannya ideal untuk menggerakkan baling-baling besar.
Sebaliknya, jika aplikasi Anda menuntut kecepatan rotasi ekstrem, respons throttle yang sangat cepat, dan mungkin bentuk silinder yang lebih ringkas, motor inrunner bisa menjadi pertimbangan, meskipun mungkin memerlukan modifikasi sistem transmisi seperti penambahan gearbox. Penting untuk diingat bahwa pemilihan motor harus selaras dengan ukuran baling-baling, bobot drone, dan kapasitas baterai untuk mencapai kinerja yang seimbang.
Remote Pilot Academy memahami kompleksitas ini. Melalui program pelatihan seperti Pelatihan Dasar Pengenalan Drone dan berbagai sertifikasi profesi lainnya, kami membekali Anda dengan pengetahuan teknis mendalam ini. Pemahaman ini akan memungkinkan Anda memilih, mengoperasikan, dan melakukan perawatan drone secara optimal, memastikan setiap misi penerbangan berjalan sukses dan aman.

Ditulis oleh
Founder & CEO, PT Remote Pilot Indonesia
Liu Purnomo adalah profesional industri drone, penulis, dan instruktur bersertifikat dengan lebih dari satu dekade pengalaman di teknologi UAV, pemetaan udara, dan penginderaan jauh (remote sensing). Sebagai Founder Remote Pilot Indonesia, ia berdedikasi untuk memajukan inovasi drone dan pendidikan profesional di Indonesia.


